Sejarah Pageant Indonesia, Saat Kecantikan Perempuan Diukur

Sejarah Pageant Indonesia, Saat Kecantikan Perempuan Diukur

Haidiva.com-Kontes kecantikan alias pageant identik dengan kompetisi perempuan cantik yang konon penilaiannya terdiri dari 3 B, brain, beauty, dan behavior. Namun bagaimana cara menentukan standar kecantikan, otak, dan perilaku perempuan?

Ajang kontes kecantikan tingkat nasional di Indonesia pertama telah ada sejak zaman Orde Lama seperti Miss Java dan di awal Orde Baru seperti Puteri Nusantara. Namun kemudian ajang nasional mati suri di tahun 1978.

Ajang kecantikan kembali hidup setelah digagas oleh pengusaha kosmetik sekaligus pendiri Mustika Ratu yakni Mooryati Soedibyo. Ajang ini pertama kali digelar di tahun 1992 dengan pemenang Indira Paramarini Soediro. Selanjutnya diikuti oleh Miss Indonesia yang diselenggarakan oleh MNC Group sejak 2005. Dua kontes kecantikan ini kemudian menjadi grandslam bagi pageant nasional Indonesia.

Tahun 2013, Miss Earth Indonesia diinisasi oleh Yayasan El John Indonesia. Lembaga ini juga menggelar kontes kecantikan minor lainnya seperti Puteri Pariwisata Indonesia, Puteri Wirausaha Kreatif, Puteri Olah Raga Indonesia, Puteri Wirausaha Kreatif Indonesia, Puteri Pangan Indonesia, Puteri Bahari Indonesia, Miss Chinese Indonesia, dan lain sebagainya.

Paling akhir, Yayasan Dharma Ganitra Indonesia yang menaungi Miss Grand Indonesia tahun 2018 dan 2019. Tahun 2020, penyelenggaraan Miss Grand Indonesia berpindah tangan ke Yayasan Mega Bintang yang digawangi oleh desainer ternama Ivan Gunawan.

Pemenang kontes kencantikan nasional akan mewakili Indonesia di pageant internasional. Sebut saja pemenang puteri Indonesia dan 2 runner up-nya masing-masing mewakili di Miss Universe, Miss International, dan Miss Supranational. Sedangkan Miss Indonesia mewakili ke Miss World. Empat kontes kecantikan ini disebut sebagai grand slam pageant dunia.

Begitu pula dengan dua yayasan lainnya yang juga mewakili Indonesia di berbagai kontes kecantikan minor. Mengikuti pola yang sama, hadirlah kontes ketampanan untuk para laki-laki Indonesia yang ingin bertarung di pageant laki-laki seperti Mister World, Mister International, Mant Hunt, Mister Supranational dan lain sebagainya.

Baca : http://haidiva.com/pageant-lovers-fandomnya-kontes-kecantikan/

Partisipasi ke internasional

Indri Hapsari, perempuan Indonesia yang place di Miss Internasional 1977

Sejatinya, Indonesia sudah mengirimkan wakil ke ajang internasional jauh sebelum kontes kecantikan nasional terbesar, Puteri Indonesia, dihelatkan. Tahun 1960, Wiana Sulastini dikirimkan ke Miss International yang digelar di Jepang. Tahun 1974, Indonesia mengirimkan Nia Kuriasi Ardikoesoema ke Miss Universe dengan dukungan salon kecantikan Andi’s Beauty. Tiga tahun kemudian Siti Mirza Nuria Arifin dikirim ke ajang Miss World 1977.

Prestasi Indonesia sebelum ada ajang nasional pun tak main-main. Indri Hapsari menjadi Runner Up II di Miss International 1977. Sementara Linda Emran menjadi pemenang Miss Asia Quest 1977. Setelah itu, nampaknya Indonesia menghadapi musim paceklik sampai Artika Sari Devi masuk 15 besar di Miss Universe 2005.

Menariknya lagi, kontes kecantikan ini menjadi awal untuk memantapkan nama di karier selanjutnya. Penyanyi Titi DJ pernah menjadi perwakilan Indonesia di Miss World 1983 sebelum dia mengeluarkan album lagu kali pertama. Pemenang lain yang terjun ke dunia hiburan seperti Venna Melinda, Alya Rohali, Nadine Chandrawinata, Agni Pratistha. Ada pula yang menjadi presenter atau pembaca berita seperti Zivanna Letisha Siregar, Dian Khrisna, Maria Harfanti, dan Kezia Waraouw.

Venna Melinda kemudian menjadi politikus Partai Demokrat. Langkahnya diikuti oleh Angelina Sondakh, Puteri Indonesia 2001, yang kemudian gelarnya dicabut karena menjadi tersangka kasus korupsi Wisma Atlet.

Pemenang Puteri Indonesia 1995, Susanty Manuhutu mendapat kemampuan komunikasi yang baik dan melapangkan karier setelah mengikuti kontes kecantikan. Ia menjadi juru bicara di perusahan perminyakan multinasional. Dan masih banyak jebolan kontes kecantikan yang berhasil di bidang karir masing-masing.

Baca: https://haidiva.com/5-fakta-ayuma-puteri-indonesia-jawa-timur-2020/

Karantina, ajang pembekalan dan penjurian

Karantina Puteri Indonesia 2018 (ig Official Puteri Indonesia)

Saat mengikuti kontes kecantikan, para calon kandidat akan diukur terlebih dahulu dari segi fisik hingga latar belakang. Rata-rata penyelenggara kontes kecantikan menyaratkan tinggi badan peserta di atas 165 cm dan berat badan yang terlihat ramping di kamera.

Tinggi di bawah angka tersebut, jangan harap bisa lolos. Terlihat gemuk, tentu menjadi bulan-bulanan para pageant lovers karena dianggap tidak cantic standar pageant. Rekam jejak seperti pendidikan, advokasi, dan prestasi menjadi pertimbangan lolos tidaknya kandidat peserta. Setelah melewati tahap awal, mereka akan masuk ke karantina.

Saat proses karantina, peserta harus siap dengan jadwal yang padat, mulai pukul 5 pagi hingga dini hari. Waktu yang terbatas digunakan untuk beragam materi seperti kelas kepribadian, koreografi jalan dan menari, pelatihan berbicara, termasuk materi yang berasal dari para sponsor. Waktu juga digunakan untuk pemotretan, pembuatan video profil, serta penjurian berupa wawancara, tes kepribadian, dan catwalk.

Tentu saja waktu yang singkat dengan materi padat akan menguji emosi dan pikiran peserta. “Efek kelelahan, peserta akan terlihat karakter yang sebenarnya di akhir karantina,” kata Puteri Indonesia 2017 Kezia Warouw saat diwawancarai di Ngopi Dara, 23 Januari 2020.   

Juri bayangan yang melihat perilaku peserta selama karantina akan ikut mempengaruhi penilaian untuk mengerucutkan ke final. Bagaimana menurutmu, apakah kontes kecantikan layak digunakan untuk menilai kerupawanan perempuan?**

Spread the love

2 thoughts on “Sejarah Pageant Indonesia, Saat Kecantikan Perempuan Diukur

Comments are closed.