Anak Orang Kaya Lebih Sukses daripada Anak Miskin yang  Rajin Belajar

Anak Orang Kaya Lebih Sukses daripada Anak Miskin yang Rajin Belajar

Haidiva.com-Born rich privilege atau hak khusus untuk menerima kemudahan karena terlahir sebagai anak orang kaya atau keturunan berada.  Penelitian lembaga riset SMERU Institute menunjukkan bahwa anak yang lahir dari keluarga miskin cenderung berpenghasilan rendah ketika mereka dewasa. Begitu pula dengan penelitian di Inggris dan Amerika Serikat seperti yang pernah dimuat di Vice Internasional.

“Pendapatan anak-anak miskin setelah dewasa 87 persen lebih rendah dibandingkan mereka yang tidak dari keluarga miskin,” tulis peneliti SMERU Rendy A. Diningrat dikutip dari Theconversation.com  

Tim Peneliti SMERU Institue membandingkan data dari 1.522 anak Indonesia  ketika berusia 8-17 tahun di 2000 dengan pendapatan mereka pada tahun 2014. Pada tahun 2015, SMERU kembali melakukan penelitian dan menunjukkan bahwa perbedaan tersebut karena ditentukan kesejahteraan para orang tua. 

Bill Gates dan keluarganya

Baca juga: Beauty Privilege, Hak Istimewa Orang Cantik

Anak yang lahir dari orang tua kaya memiliki peluang jauh lebih besar untuk mendapatkan pendidikan formal dan non-formal yang lebih baik, bahkan termasuk memperluas jaringan yang memberikan peluang ekonomi besar. Saat mereka berhadapan dengan masalah, orang tua kaya cenderung mencari solusi. Sedangkan anak dari keluarga miskin, orang tua mereka cenderung marah dan memberi hukuman saat anak menghadapi masalah. 

Penelitian SMERU di tahun 2019, tim peneliti menyimpulkan bagaimana anak miskin akan tetap miskin ketika dewasa setelah menguji tujuh faktor yang mungkin berpengaruh pada peningkatan penghasilan mereka. Ketujuh hal  tersebut adalah status kemiskinan hasil tes kognitif, hasil tes matematika, lama bersekolah, kapasitas paru-paru (untuk menggambarkan kondisi kesehatan), koneksi pekerjaan melalui kerabat, dan hasil tes kecenderungan depresi.

Sebagai contoh, anak yang terlahir miskin mempunyai nilai matematika yang sama dengan anak kaya. Namun saat dewasa, ternyata nilai matematika yang sama tak membuat ia mendapatkan penghasilan yang sama dengan anak yang terlahir dari keluarga kaya. Hal ini disebabkan karena mereka tak berada pada garis awal yang sama.

Baca juga: Atur Keuangann Generasi Sandwich

Penelitian yang serupa juga terjadi Inggris. Sosiolog Universitas Oxford John Goldthorpe mengatakan hasil penelitiannya menunjukkan  bahwa pendidikan selama satu dekade ini tak mampu membuat anak-anak mengalami mobilitas ke atas. Penyebabnya karena orang tua kaya lebih mempunyai modal ekonomi, budaya, dan sosial agar anak-anaknya tetap terdepan. Sedangkan anak-anak dari keluarga miskin sulit mendapatkan akses ini meski telah rajin belajar di sekolah.

“Pendidikan itu penting tapi jelas tak cukup bisa mengangkat orang dari latar belakang yang lebih miskin. Anak-anak dari keluarga miskin tetap mempunyai pendapatan yang lebih rendah meski mereka lulus dengan nilai dan universitas yang sama dengan temannya yang dari keluarga kaya,” kata Direktur Eksekutif The Equality Trust Wanda Wyporska yang membenarkan penemuan Goldthorpe.

Jadi dilihat dari penelitian-penelitian ini menunjukkan kemiskinan bukan karena kurang bekerja keras tapi bisa jadi tak punya akses ke arah peningkatan hidup yang lebih baik. Namun, ada pula anak miskin yang sukses mendapatkan penghasilan yang sama besarnya dengan anak dari keluarga kaya meski jumlahnya lebih sedikit. Mereka tentu berusaha jauh lebih keras dibandingkan anak keluarga kaya untuk mengejar ketertinggalan di garis awal.**

Spread the love