081-2173-3281 redaksi@haidiva.com

Strong Woman bukan Wonder Woman

Strong Woman bukan Wonder Woman

Haidiva.com-Ada tak strong woman di antara orang-orang terdekatmu? Atau mungkin justru kamu sendiri lah orangnya? Siapa pun dia, yuk mulai kita beri mereka perhatian lebih.

Apakah sedang butuh bantuan, sedang butuh dukungan, sedang perlu seseorang untuk sharing, dan semacamnya. Ini penting loh. Jangan berpikir hanya karena mereka tangguh lantas para strong woman tidak butuh dukungan dan perhatian kita.

Rata-rata strong woman memiliki tendensi untuk berganti peran menjadi Wonder Woman dengan terlalu membebani diri sendiri. Tendensi ini muncul sebagai dampak dari kebiasaan berperilaku mandiri dan juga anggapan bahwa mereka adalah perempuan yang tangguh.

Kalau dibiarkan terlalu lama, hal ini bisa berakibat buruk untuk strong woman tersayang kita baik secara fisik maupun mental,  seperti resiko kelelahan, insomnia, gangguan jantung, maupun depresi. Seserius itu? Sayangnya iya.

Dan sebenarnya, akar masalah ini cuma ada pada dua kata : terbiasa dan stigma.

Para strong woman rata-rata adalah perempuan yang lebih suka mengandalkan diri sendiri. Jelas, menjadi sosok yang mandiri adalah sesuatu yang patut dibanggakan. Hanya saja, kebanyakan dari mereka akhirnya sulit meminta bantuan orang lain karena terlalu terbiasa melakukan segalanya sendiri.

Alasannya pun macam-macam, mulai dari tak mau merepotkan orang, masih mampu melakukannya sendirian, sampai alasan paling tenar di kalangan orang Jawa yaitu sungkan alias tak enak hati. But remember, even Wonder Woman needs help, right?

Akan menjadi lebih buruk ketika ketidakmampuan para strong woman untuk meminta tolong ini kurang disadari oleh orang-orang di sekitarnya. Ah dia memang biasanya begitu kok, apa-apa dikerjakan sendiri. Ah kalau dia sih masalah beginian tuh kecil, dia kan strong.

Stigma kuat dan tangguh inilah yang kadang membuat mereka kehilangan kesempatan mendapatkan bantuan dari orang-orang di sekitarnya. Akhirnya si perempuan tangguh akan mulai memaksakan diri, sementara yang di sekitarnya masih sibuk terkagum-kagum tanpa tahu kondisi sebenarnya seperti apa. Aduduh, jangan sampai terjadi ya kakak.

Kalau kondisi ini dibiarkan berlarut-larut, strong woman tersayang kita akan mulai kelelahan tidak hanya secara fisik. Mereka juga akan kelahan secara mental. Kebayang dong seperti apa rasanya terus-terusan being strong tanpa bisa minta tolong.

Sakitnya tuh di sini, kakak, di dalam hati. Ini nih yang kadang berujung pada kesulitan tidur, kehilangan nafsu makan, atau justru kesulitan mengontrol nafsu makan. Jadi, cobalah sesekali tawarkan bantuan pada strong woman di sekitar Anda.

Ingatkanlah mereka bahwa sesekali merasa lemah itu sangat manusiawi. Setidaknya, tunjukkan perhatian kita agar mereka tahu bahwa kita siap membantu kapan pun diperlukan.

Kehebatan lain dari para strong woman adalah terbiasa menghadapi momen-momen sulit, sehingga mereka sering dijadikan konsultan oleh orang-orang di sekitarnya yang sedang menghadapi masalah rumit. Lagi-lagi, kata ‘terbiasa’ dan ‘stigma’ memainkan perannya.

Seorang strong woman yang terlalu terbiasa menampung masalah orang-orang di sekitarnya  biasanya akan mulai kesulitan berbagi beban hidupnya. Mereka membantu menyelesaikan masalah orang lain, tapi menyimpan masalah sendiri.

Gelas yang terus-menerus diisi air pasti akhirnya akan penuh dan tumpah dong ya. Strong woman pun begitu. Disadari atau tidak, masalah-masalah yang disimpan itu nantinya cenderung membuat mereka merasa sendirian dan tertekan. Kenapa aku ada untuk mereka tapi tak satu pun ada untukku? Jangan sampai para perempuan tangguh kita tersiksa karena perasaan ini ya.

Sebuah jurnal berjudul Emotion Suppression and Mortality Risk Over a 12-Years Follow-up oleh Benjamin P. Chapman menyebutkan bahwa selain berpotensi menimbulkan depresi,  kebiasaan menahan emosi juga melemahkan kesehatan kardiovaskuler atau jantung.

Gak mau kan ini terjadi pada para strong woman kita? So, segera berikan perhatian lebih ke para strong woman tersayang kalau mereka mulai jarang curhat.

Last but not least, jadilah pendengar yang baik. Biarkan mereka menumpahkan bebannya sampai lega.  Cukup dengarkan dan cobalah memahami kesulitan yang mereka hadapi. Tak perlu repot-repot mencarikan solusi karena sejatinya yang mereka butuhkan hanyalah tempat berbagi. Didengarkan akan membuat mereka merasa lebih lega dan lebih siap untuk kembali menghadapi hidup dan segala tantangannya.

Dengan perhatian dan dukungan yang baik, strong woman kita akan semakin menginspirasi tanpa gangguan kesehatan maupun depresi.

Yuk dukung jaga para strong woman kita tercinta. Karena bagi mereka, dukungan kita juga salah satu sumber semangatnya.

(Ditulis sebagai tanda cinta untuk para wonder woman di sekitar saya yang sudah terlanjur kehilangan kesehatannya)

Penulis: Seruni

Peserta kompetisi “Lomba Menulis Artikel dengan Tema Strong Women” yang diadakan Haidiva.com dalam memperingati Hari Ibu.

Spread the love

4 thoughts on “Strong Woman bukan Wonder Woman

  1. Mengenal Ahli Cuddle Profesional yang Tak Nakal
    April 14, 2020 at 11:47 am

    […] Baca:  Strong Woman bukan Wonder Woman […]

  2. Ciri Jasa Cuddle Profesional yang Tak Nakal
    April 14, 2020 at 7:49 pm

    […] Baca:  Strong Woman bukan Wonder Woman […]

  3. Benarkah Perempuan Lebih Multitasking daripada Laki-Laki?
    June 27, 2020 at 8:58 pm

    […] Baca juga: Strong Woman bukan Wonder Woman […]

  4. Selebriti Indonesia Lakukan Gerakan #WomenSupportingWomen, Kamu Kapan?
    July 29, 2020 at 3:34 pm

    […] Baca Juga: Strong Woman bukan Wonder Woman […]

Comments are closed.