Review Drakor ‘When the Camellia Blooms’,  Perempuan Kuat Tak Harus Maskulin

Review Drakor ‘When the Camellia Blooms’, Perempuan Kuat Tak Harus Maskulin

Haidiva.com-Drama Korea ‘When the Camellia Blooms’ panen penghargaan di Baeksang Arts Awards 2020 yang merupakan Golden Globe-nya Korea. Drakor ini menang 4 penghargaan dari 8 kategori yang menominasikannya. Cerita yang sederhana dan relate dengan kisah sehari-hari, ‘When the Camellia Blooms’ menarik diikuti. Berikut Review dari Haidiva.

When the Camellia Blooms bercerita tentang ibu tunggal tanpa menikah bernama Dong Baek (Gong Hyo Jin) yang pindah ke Kota Ongsan. Ia membuka bar bernama Camellia. Camellia sendiri dalam Bahasa Korea disebut Dong Baek.

Enam tahun kemudian, Dong Baek bertemu dengan polisi yang dimutasi ke kampung halaman bernama Yong Sik (Kang Ha Neul). Yong Sik jatuh cinta pada pandangan pertama padanya. Awalnya, Dong Baek menolak Yong Shik yang bucin, tapi akhirnya ia menerima ketulusannya.

Tentu saja, kisah cinta Dong Baek dan Yong Sik tak semulus jalan tol. Mereka harus menghadapi kecumburuan anak Dong Baek, Kang Pil Gu (Kim Kang Hoon), dan ayah anaknya yang ingin balikan. Ada ibu Yong Sik yang semula menjadi sahabat Dong Baek beralih memusuhinya karena tak ingin anaknya menikah dengan ibu tunggal. Padahal nasib Dong Baek itulah yang mengingatkannya akan masa muda saat membesarkan ketiga putera sendirian, setelah ayah Yong Sik meninggal.

Sebagai pemilik bar, Dong Baek acap kali mendapatkan pelecehan dari pengunjungnya. Ia sering dicibir dan dimusui ibu-ibu pasar yang khawatir suaminya tergoda dengan Dong Baek. Padahal, ia selalu menjaga sikap di hadapan pelanggan dan tetangga.  

Belum lagi menghadapi pembunuh berantai yang menargetkan dia sebagai korban selanjutnya. Konflik semakin pelik ketika ibu Dong Baek yang telah membuangnya saat kecil, tiba-tiba datang dalam keadaan alzheimer.

Lantas, bagaimana Dong Baek menyelesaikan semua masalahnya?

Baca juga: Alasan The World of The Married Disukai Perempuan

Penulis Lim Sang Choon dan sutradara Cha Yeong Hoon memang menggambarkan Dong Baek sebagai sosok perempuan yang kuat. Tapi gambaran kuatnya Dong Baek bukan pada sisi maskulin seperti drakor akhir-akhir ini. Jangankan bela diri seperti Go Haeri di Vagabond, Dong Baek hampir enggan perang mulut dengan orang lain. Alih-alih tegas seperti Ji Sun Woo di The World of the Married, ia acap kali menangis terisak-isak seperti anak kecil saat merasa masalahnya tak bisa diatasi.

Dong Baek tak bisa membalas cibiran ibu-ibu tetangga. Saat dilecehkan oleh pelanggan, Dong Baek hanya bisa menolak dengan nada lirih sambil mencatatnya di buku harian. Tapi tetap saja, Dong Baek bukanlah seperti tokoh utama perempuan di sinetron-sinetron kita yang hanya sabar saat dizalimi lalu menunggu keajaiban atau pertolongan orang datang. Dia melawan pada saat yang tepat dan tanpa penonton duga.

Tokoh utama laki-laki di When the Camellia Blooms, Yong Sik tak berposisi sebagai dewa penolong Dong Baek. Dia hanya membantu saat Dong Baek dalam keadaan terdesak.

Kekuatan drakor When the Camellia Blooms lebih pada alur cerita dan akting pemainnya. Kamu tak akan menemukan tokoh yang terlalu tampan atau cantik luar biasa. Kang Ha Neul yang nampak tampan di drakor atau film Korea lain, di sini terlihat sangat kampungan dengan logat ndeso-nya. Tak heran bila Kang Ha Neul menang Best Actor di Baeksang Arts Awards.

Baca juga: Brand Mahal yang Digunakan Kim Go Eun di The King: Eternal Monarch

Sulit menemukan barang-barang mewah maupun fashion dengan merek ternama yang dikenakan para pemainnya. Tak ada adegan ‘sekeren’ ala Lee Min Hoo naik kuda demi menyelamatkan Kim Go Eun di The King: Eternal Monarch. Konflik yang disajikan pun menunjukkan bahwa tak ada orang-orang yang benar jahat. Tapi, cerita permainan ansamble para pemainnya berhasil membuat drakor ini terlihat harmoni. Cerita, pace, akting pemain, hingga konflik semuanya pas, tak kurang juga tak berlebihan. Bonus, lagu-lagu penggiring When the Camellia Blooms enak didengar telinga. Pantas saja, ‘When the Camellia Blooms’ meraih Grand Prize (Daesang) di Baeksang Arts Awards 56.**

Spread the love

1 thought on “Review Drakor ‘When the Camellia Blooms’, Perempuan Kuat Tak Harus Maskulin

Comments are closed.