Rasisme di Korea Selatan, Pandang Rendah Kulit Gelap

Rasisme di Korea Selatan, Pandang Rendah Kulit Gelap

Haidiva.com-Pekan lalu, dunia maya dihebohkan dengan tagar #cancelkorea yang dibuat oleh netizen Filipina yang berujung pada ucapan #SorrytoFilipinos. Penyebabnya karena perdebatan panjang antara netizen Korea Selatan dan Filipina terkait rasisme. Permasalahan bermula ketika tanggal 5 September 2020, seleb TikTok Filipina Bella Poarch memperlihatkan tato matahari terbit di lengannya. Netizen Korea kemudian menghujatnya karena gambar tersebut mirip bendera imperialisme Jepang, ketika Korea dijajah dulu. Mendapatkan hujatan, Bella Poarch meminta maaf dan berjanji akan menghapusnya.

“Aku sungguh minta maaf jika tatoku membuat kalian tak nyaman. Aku cinta Korea. Please forgive me,” tulis Bella.

Alih-alih diterima, Bella dan Filipina justru mendapatkan cemoohan sebagai masyarakat miskin, negara bodoh dan tertinggal dari Asia Tenggara.  Alhasil, netizen Filipina langsung meradang.

Tato matahari terbit Bella Poarch yang membuat netizen Korea Selatan meradang

Baca juga: Rasisme di Industri Film India

Sejatinya, rasisme di Korea Selatan tak hanya kasus antara netizen Korea dan Filipina. Hingga kini, rasisme di Korea Selatan menyebabkan orang-orang yang mempunyai kulit gelap merasa didiskriminasikan.

Survei yang dilakukan oleh Seoul Institute pada tahun 2014 menunjukkan 94,5 persen dari 2.500 orang asing yang menjadi responden menjawab telah mengalami diskriminasi. Jenis diskriminasi yang diterima karena kebangsaanya yakni 62,2 persen, dan sisanya karena penampilannya.

Penelitian dari World Values Survey sepanjang tahun 2010-2014 menunjukkan 44,2 persen warga Korea Selatan tak mau mempunyai tetangga yang berbeda etnis. Penelitian juga menunjukkan diskriminasi mereka ditujukan kepada warga keturunan Asia dan Afrika. Sementara keturunan Eropa, Amerika Utara, dan kulit putih lainnya mendapatkan diskriminasi.

Salah satu tweet dari netizen Korea yang menjelekkan Filipina

Mendapatkan banyak kecaman, penelitian dari Emma Campbell yang disampaikan di Wiley Online Library menunjukkan bahwa pemerintah Korea Selatan mulai kooperatif dengan merevisi sejumlah perundang-undangan. Misalnya peraturan untuk keluarga multikultural yang membantu memperbaiki pelayanan dasar bagi warga imigran.

Baca juga: Madam Shim, Dibalik Kasus Prostitusi Artis di Korea Selatan

Tahun 2011, militer Korea Selatan juga membatalkan peraturan yang melarang laki-laki ras campuran untuk mendaftar menjadi tentara. Mereka juga mengubah sumpah yang sebelumnya merujuk pada kemurnian ras (minjok) dengan setia pada kewarganegaraan.

Namun meski demikian, diskriminasi yang diterima warga negara Korea keturunan tetaplah masih tinggi. Dikutip dari Herald, mereka masih mendapatkan perlakuan tak menyenangkan di tempat kerja dan fasilitas umum, bahkan penolakan dari sopir taksi. Survei yang dibuat oleh Komnas HAM Korea Selatan pada tahun 2019 juga menunjukkan bahwa 68,4 persen responden masih mengalami diskriminasi rasial.**

Spread the love