Raising Theybies, Metode Orang Tua Didik Anak Bebas Gender

Raising Theybies, Metode Orang Tua Didik Anak Bebas Gender

Disclaimer, tulisan terjemahan yang dibuat oleh Haidiva bukan berarti bentuk dukungan atau penolakan terhadap metode membesarkan anak bebas gender. Haidiva bersifat netral sepanjang orang tua tak mengabaikan hak universal anak. Tulisan ini hanya sebatas pengetahuan untuk pembaca.  

Haidiva.com-Theybie, menurut urban dictionary diartikan sebagai sebutan untuk anak-anak yang tidak diidentifikasikan sebagai gender tertentu, feminin atau maskulin, laki-laki atau perempuan. Para orang tua theybies memberikan kebebasan pada anak-anaknya untuk memilih gender mereka sendiri pada waktunya nanti. Sesuatu yang belum umum di Indonesia. Berikut kisah para orang tua theybies yang diterjemahkan dari Pittsburghcurrent.

Turtle dan adik laki-lakinya, Philip, sering bermain peran layaknya kehidupan orang dewasa. Philip selalu berperan sebagai ‘ibu’ karena kakaknya selalu ingin menjadi ‘ayah’. Ketika bibi atau paman mereka mengirim gaun cantik, Turtle menolaknya.

“Kamu bisa memakai bajuku, aku akan mengenakan bajumu,” kata Philip kepada kakaknya.

Baca juga: Childfree, pilihan untuk tak punya anak

Caitlin Evan tahu Turtle adalah non-biner sejak dia dilahirkan. Awalnya, Caitlin tentu kaget dan khawatir. Caitlin akhirnya memilih nama feminine dan membeli barang-barang feminine untuk Turtle tapi ia selalu menolak. Saat berusia tiga tahun, Turtle ingin menjadi laki-laki.

“Saya merasa ketakutan. Apa yang harus saya lakukan? Tapi ia benar-benar tak pernah mau menggunakan gaun, tak menyukai sesuatu yang berkilauan, atau hal-hal yang feminin,” kata Caitlin.

Alih-alih memaksakan gender perempuan sesuai dengan tanda lahir, Caitlin akhirnya memperbolehkan anaknya mengeksplorasi peran gender apapun. Dan ternyata, Caitlin dan suami bukanlah pasangan pertama yang mempunyai sistem theybie. Muncul di tahun 1970-an, pola asuh non-gender semakin meningkat di Amerika Serikat.

Seperti orang tua Turtle dan keluarga lain, mereka tak menetapkan penyebutan jenis kelamin bagi anak-anaknya. Meski tak mengungkapkan jenis kelamin anak, bukan berarti mereka menghilangkan gender dalam kehidupan buah hati. Anak-anak mereka dibiarkan mempelajari eksplorasi sisi maskulinitas dan feminitas, atau di antaranya, tanpa berekspektasi pada hasil akhir.

Baca juga: Unschooling, alternatif pendidikan tanpa sekolah

Psikolog dan pakar perkembangan klinis dan gender Diane Ehrensaft menulis buku berjudul ‘The Gender Creative Child: Pathways for Nurturing and Supporting Children Who Live Outside Gender Boxes’. Dalam bukunya, Diana mendorong para orang tua melupakan asumsi tentang gender ketika menyangkut anak-anak. Hilangkan istilah ‘anak perempuan harus lemah lembut’ atau ‘anak laki-laki harus pemberani’.

“Dunia telah berubah, anak-anak adalah calon pemimpin masa depan yang revolusioner,” kata Diana.

Para theybie tentu akan mengalami cemoohan baik dari orang dewasa maupun teman-teman sebaya. Para orang tua perlu mengintervensi atau mengedukasi bila perisakan itu bakal merusak kepercayaan diri anak.

Mungkin beberapa anak akan menanyakan tentang ekspresi gender teman sebayanya dan melukai perasaan anak lain tanpa disadari. Saat itu, Diana menyarankan agar orang dewasa mengedukasi bahwa ekspresi dan peran gender itu cair. Tak semua ibu bisa memasak dan bukan berarti ayah harus pergi ke kantor.**

Spread the love