081-2173-3281 redaksi@haidiva.com

Pentingnya MPASI Terfortifikasi Cegah Anemia Defisiensi Besi

Pentingnya MPASI Terfortifikasi Cegah Anemia Defisiensi Besi

Haidiva.com – Makanan pendamping ASI atau MPASI merupakan asupan tambahan untuk bayi saat memasuki usia 6 bulan. Hal ini demi memenuhi kebutuhan energi dan nutrisi harian si Kecil yang sudah tidak bisa lagi terpenuhi melalui ASI.

Sebagai makanan pendamping, MPASI wajib mengandung berbagai nutrisi penting yang dibutuhkan untuk tumbuh kembang anak, terutama zat besi, karena nutrisi ini adalah yang paling tidak terpenuhi kebutuhannya setelah bayi berusia 6 bulan. Maka dari itu dibutuhkan bahan makanan sumber zat besi untuk MPASI si Kecil.

Namun, bagaimana cara memenuhi kebutuhan zat besi si Kecil melalui MPASI? Dan apa dampaknya jika anak kekurangan zat besi? Dr. dr. Lanny Christine Gultom, SpA(K), Dokter Spesialis Anak dan Ahli Nutrisi menjelaskan seputar Anemia Defisiensi Besi (ADB) yang merupakan salah satu jenis anemia yang paling umum terjadi.

Mengenal Anemia Defisiensi Besi, Masalah yang Membayangi Anak Indonesia

ADB adalah rendahnya kadar hemoglobin akibat kekurangan zat besi di dalam tubuh. Anemia defisiensi besi pada bayi tidak terjadi secara tiba-tiba, namun didahului oleh dua tahapan sebelumnya yaitu deplesi besi (berkurangnya cadangan zat besi, namun kadar hemoglobin masih normal) dan defisiensi besi dimana kadar hemoglobin sudah menurun.

“Bayi yang mengalami deplesi besi dan tidak ditangani dengan baik akan mengalami defisiensi besi. Jika kondisi defisiensi besi tidak juga di tangani segera, maka bayi akan mengalami ADB,” ujar Dr. dr. Lanny.

Faktor Anemia Defisiensi Besi pada Anak

Lanny mengungkapkan, anemia defisiensi besi dapat disebabkan oleh berbagai faktor, seperti suplai zat besi yang rendah. Ini terjadi karena prematuritas, pemberian MPASI yang terlambat, diet vegetarian, hingga adanya gangguan menelan.

Penyebab berikutnya adalah peningkatankebutuhan zat besi yang dipengaruhi salah satunya oleh berat badan lahir rendah. Kemudian adanya penurunan penyerapan zat besi di saluran cerna, dan adanya perdarahan karena alergi susu sapi, dsb).

“Penelitian Ringoringo pada bayi berusia 0 – 12 bulan di Kalimantan Selatan menemukan insidens ADB sebesar 47,4%. Insidens ADB pada penelitian ini cenderung lebih tinggi pada bayi yang lahir dari ibu dengan anemia dibandingkan ibu tanpa anemia,” jelasnya lagi.

ADB Dapat Pengaruhi Tumbuh Kembang Anak

Lanny menuturkan zat besi merupakan salah satu zat gizi penting untuk perkembangan janin, bayi, dan anak, terutama pada perkembangan otak. Adanya defisiensi zat besi bisa mengakibatkan gangguan perkembangan psikomotor dan fungsi kognitif, khususnya fokus dan daya ingat.

Pada saat di dalam kandungan, bayi mendapatkan asupan zat besi dari ibunya yang dapat memenuhi kebutuhan zat besi bayi sampai 4 – 6 bulan pertama setelah kelahirannya. Bayi yang lahir cukup bulan dan mendapat ASI eksklusif tidak memerlukan suplementasi zat besi.

“Ketika bayi mencapai usia 4 – 6 bulan, cadangan zat besi mulai habis sedangkan
kebutuhan zat besi makin meningkat sehingga menyebabkan bayi lebih rentan untuk mengalami defisiensi besi. Kebutuhan ini harus dipenuhi dari MPASI,” tandasnya.

“Ibu dapat memberikan MPASI rumahan maupun MPASI fortifikasi komersial. Kelebihan MPASI rumahan adalah rasa yang beraneka-ragam dan biaya yang murah. Namun MPASI rumahan memiliki risiko lebih tinggi kontaminasi mikroba selama penyiapan, penyimpanan, dan proses pemberian makan, serta kejadian tersedak jika tekstur makan yang diberikan tidak sesuai usia apabila dibandingkan MPASI fortifikasi kemasan,” sambungnya.

Lanny mengungkapkan, di Indonesia, Badan Pengawasan Obat dan Makanan Republik Indonesia (BPOM RI) mengawasi dengan ketat produk MPASI komersial termasuk MPASI fortifikasi. Kandungan nutrisi dalam MPASI fortifikasi tak hanya harus mengikuti peraturan BPOM RI namun juga harus sesuai dengan Codex Alimentarius yang diinisiasi oleh FAO/WHO (Food and Agriculture Organization of the United
Nations/World Health Organization), serta diperkaya dengan zat gizi tertentu (besi, yodium, seng, vitamin D, dsb) untuk memastikan asupan zat gizi yang adekuat sehingga anak dapat bertumbuhkembang secara optimal.

“Hambatan yang sering ditemui dalam penggunaan MPASI rumah tangga adalah kesulitan untuk menentukan kandungan nutrisi secara akurat dan daya terima anak yang mempengaruhi jumlah konsumsi karena ukuran lambung anak yang kecil. Kedua hal ini sangat menentukan kecukupan asupan zat gizi anak setiap hari,” paparnya.

MPASI Fortifikasi Kemasan Bisa Jadi Alternatif

Penelitian Irawan R, dkk di Indonesia menunjukkan bayi berusia 6 – 24 bulan yang mendapatkan ASI eksklusif selama 6 bulan dan mengonsumsi MPASI rumahan mempunyai kadar hemoglobin dan zat besi yang lebih rendah, serta risiko yang lebih tinggi untuk mengalami stunted (perawakan pendek) dan wasted (gizi kurang) dibandingkan bayi yang mengonsumsi MPASI fortifikasi kemasan.

Selain itu, penelitian Csölle I, dkk juga menunjukkan bahwa pemberian MPASI fortifikasi pada bayi juga dapat mengurangi risiko anemia.

“Orang tua dapat menggunakan MPASI rumahan dan MPASI fortifikasi untuk mencegah ADB pada bayi. MPASI fortifikasi kemasan dapat menjadi alternatif untuk digunakan secara tunggal atau kombinasi dengan MPASI rumahan agar memastikan asupan zat gizi makro dan mikro yang adekuat pada bayi,” pungkasnya.

Spread the love