081-2173-3281 redaksi@haidiva.com

Mina La Voilee, Rapper yang Patahkan Stigma Berhijab

Mina La Voilee, Rapper yang Patahkan Stigma Berhijab

Haidiva.com- Genji Hip Hop yang semuanya perempuan menggunakan sajak dan seni untuk melawan stereotip budaya dan kekerasan gender. Salah satu anggotanya, Aminata Gaye, menggunakan hijab. Gadis 27 tahun asal Senegal ini mempunyai nama panggung  Mina la voilée  atau Mina yang berjilbab.

“Ketika pertama kali ngerap sebagai mulimah berjilbab, aku mengalami serangan di media sosial. Dukungan bahwa aku tak sendirian itulah yang membantuku bertahan,” kata Mina seperti yang dilansir dari Guardian, akhir Desember 2019.

seneplus.com

Mina adalah anggota Genji Hip Hop – kelompok perempuan yang terdiri dari 70 orang dengan profesi sebagai rapper, penyanyi, DJ, dan seniman grafiti. Mereka bertemu melalui  WhatsApp pada 2017. Sejak itu, Genji Hip Hop  berkembang menjadi organisasi masyarakat sipil yang mengadakan konser, lokakarya yang membicarakan masalah-masalah perempuan di negara Afrika barat.

Mereka saling mendukung dalam memperjuangkan  hak-hak perempuan. Gerakan mereka bersifat global dan lokal. Salah satunya ialah dukungan terhadap perempuan di Kolombia yang berjuang melawan pemerkosaan.

Di atas panggung, para rapper menyuarakan protes terhadap stigma buruk perempuan, inses, tekanan keluarga, dan pemerkosaan. Dukungan dari sesama anggota membantu para perempuan melawan tekanan yang sering mereka rasakan untuk menyesuaikan diri.

“Ketika kamu seorang perempuan, biasanya di negara kami, mereka memberi tahu apa yang harus kamu lakukan. Kamu akan merasa tidak percaya diri saat menghadapi pandangan masyarakat. Tetapi ketika menjadi seorang rapper, kamu akan memiliki kepercayaan diri untuk menyuarakan pendapat,” kata Mina

Mina adalah perempuan yang sudah menikah. Lazim di negaranya,  istri diharapkan tinggal di rumah untuk  memasak dan membersihkan, dan tidak pulang terlambat. Masalah muncul ketika rapper perempuan menikah karena pertunjukan sering berlangsung di malam haru. Mina harus membagi waktu antara profesi dan rumah tangga. Karena itulah, ia memilih menikah dengan sesama rapper. Suaminya, Mamadou Sagne, adalah seorang rapper.

viberadio.sn

Tetapi yang lain tidak begitu beruntung. Rapper dan anggota Genji, Eve Crazy, baru-baru ini bercerai dengan suaminya setelah tekanan dari mertuanya untuk mengakhiri karirnya. Meski mengakhiri pernikahan, Eve Crazy tak bisa lepas dari tekanan begitu saja. Dia harus tetap menghadapi tuntutan cara berpakaian dan bersikap di hadapan sosial.

“Saya tidak memiliki kebebasan apa pun,” kata Eve Crazy.

Menurut Wasso Tankoura, pemimpin Genji Hip-Hop, budaya Senegal menuntut perempuan untuk meyakini konsep Wolof. Konsep tersebut mendikte perempuan harus memiliki “kesabaran” dan “sanggup  menanggung sakit” setiap kenyataan pahit. Wasso menyebutkan  pemerkosaan misalnya. Berbicara mengenai pemerkosaan dianggap akan  merusak tatanan sosial keluarga dan masyarakat.

“Perempuan itu harus tahan dengan segalanya, termasuk sepahit apapun pernikahan. Bahkan jika kamu berbicara dengan orang tuamu sendiri, mereka akan mengatakan bahwa kamu harus kuat dan sabar menanggungnya,” ujar Mina.

Hip-hop memungkinkan para perempuan untuk melawan arus.  “Segala sesuatu yang masyarakat tidak ingin kamu bicarakan. Rap tidak tutup mulut,” pungkas Mina. (ndr)

Spread the love