Mengabdi di Rimba Borneo

Mengabdi di Rimba Borneo

Haidiva.com-Derasnya aliran Sungai Mawang Mentatai, Kalimantan Barat, yang membelah hutan hampir setiap hari kuarungi. Naik ces—semacam perahu yang digerakkan mesin– bersama juru kemudi dan berbekal tas kerja berisi satu set perlengkapan medis, aku siap blusukan dari dusun ke dusun di Rimba Borneo.

Perkenalkan namaku Vini, dan aku lebih akrab dipanggil Bidan Vini. Aku berkerja di Yayasan Alam Sehat Lestari (ASRI) salah satu yayasan non-profit di kalimantan barat. Tanpa terasa sudah memasuki tahun ke dua aku berkerja sebagai bidan lapangan di ASRI dan Sudah dua tahun pula aku tinggal di Rimba Borneo.

Yayasan ASRI adalah lembaga non-profit yang memiliki pendekatan unik dan inovatif dalam upaya pelestarian hutan dan peningkatan kesehatan masyarakat. 

Aku berkerja sebagai bidan di Desa Nusa Poring, Kecamatan Menukung, Kabupaten Melawi, Kalimantan Barat. Mungkin bisa dibilang aku adalah bidan pertama yang menetap di desa tersebut. Akses untuk menuju desa ini cukup sulit, terutama saat musim penghujan tiba. Jalanan yang belum di aspal serta tanjakan khas perbukitan Kalimantan menjadi salah satu penyebab desa ini kurang mendapat fasilitas negara. Saat musim penghujan tiba, dusun-dusun seperti terisolir dan salah satu akses yang bisa di gunakan adalah sungai dengan menggunakan alat tranportasi ces.

Di sini hal hal vital seperti listrik, tempat pendidikan, pelayanan kesehatan hampir tidak terjamah pemerintah. Untuk penerangan warga menggunakan solar panel yg hanya bisa menyala saat malam hari dan bertahan beberapa jam saja.

Sedangkan dalam segi pendidikan, anak anak hanya bisa mencapai sekolah dasar saja. Jika ingin lanjut ke tahap berikutnya, anak-anak harus keluar desa untuk bersekolah. Begitu juga untuk kesehatan, akses terdekat untuk pelayanan kesehatan adalah dua jam menggunakan sepeda motor, itupun juga musim kemarau dan sangat berbeda saat musim penghujan tiba.

Awal mulanya, aku merasa risih untuk bertugas di desa ini. Aku yang terbiasa hidup di perkotaan kini harus beradaptasi untuk tinggal di dusun yang jauh dari hingar bingar kehidupan kota. listrik, sinyal internet, dan makanan enak sementara waktu harus aku tinggalkan. 

Bulan-bulan awal, aku merasa kesusahan beraadaptasi dengan keadaan. Namun niat untuk mengabdi dan menolong membuatku betah berada di sini. Pernah suatu ketika aku bertemu dengan sekelompok ibu yang sedang duduk di teras rumah. Mereka  mengatakan sangat tertolong semenjak ada Bidan Vini di dusun mereka. Setidaknya, mereka tidak harus berjam jam ke kota hanya untuk mendapatkan pelayanan KB dan melahirkan.

Sesungguhnya mendapatkan pelayanan kesehatan adalah hak setiap warga negara, namun beberapa kendala membuat hak hak masyarakat di pedalaman seaakan terampas. Program Nusantara Sehat menjadi secercah harapan bagi masyarakat pedalaman, dan semoga Desa Nusa Poring bisa terjamah oleh program tersebut suatu hari nanti.

Penulis: Efan Juniansyah

Peserta kompetisi “Lomba Menulis Artikel dengan Tema Strong Women” yang diadakan Haidiva.com dalam memperingati Hari Ibu.

Spread the love