Hari Ibu dan Konstruksi Domestikasi Perempuan

Hari Ibu dan Konstruksi Domestikasi Perempuan

Haidiva.com-Hari Ibu selalu dimaknai dengan penyambutan atas hal-hal yang bersifat domestik, seperti rasa terimakasih karena setia berada di rumah, tidak pernah mengeluh, tidak pernah meminta dan selalu menerima dan mendukung keluarga dari belakang. Hari Ibu tak pernah lepas dari identifikasi peran domestik perempuan yang berkorban untuk keluarga. Perayaan hari ibu identik dengan domestikasi perempuan. 

Perayaan hari Ibu sering dimaknai dengan pembebasan tugas-tugas domestik justru semakin menambah pengakuan terhadap peran motherhood (pengasuhan). Lantas apakah hari Ibu hanya sebagai perayaan atas aktivitas melahirkan dan menyusui, juga sebagai pengasuh anak, dan pendamping suami?

Tentu tidak salah dan sah-sah saja jika kita ingin berterimakasih pada Ibu atas jasanya. Tetapi menilik potret dan konstruksi “Hari Ibu” masa kini telah berbeda dengan tujuan awal dibentuknya hari Ibu dalam Kongres Perempuan Indonesia III pada 1938 yang membawa spirit perjuangan dan gerakan kaum perempuan sejak didengungkan di Kongres Perempuan Indonesia I.

Kongres yang dihadiri 1000 perempuan dari 30 organisasi ini merupakan titik pijak masuknya perempuan ke ranah politik praktis. Faktor yang menjadi pendorong perempuan berkumpul saat itu ialah tekad perjuangan kemerdekaan dan perbaikan hak serta nasib kaumnya.

Dalam pertemuan tersebut, para delegasi organisasi-organisasi perempuan berkumpul mencari solusi permasalahan kaum hawa. Masalah tersebut mulai dari pendidikan perempuan, nasib anak yatim, perkawinan anak, kawin paksa, bahkan membahas mengenai poligami. Sungguh pemikiran para perempuan yang revolusioner di era prakemerdekaan.  

Setelah itu, para lulusan Kongres Perempuan Indonesia I melanjutkan sejumlah advokasi terhadap permasalahan perempuan, termasuk hal kekerasan dalam rumah tangga. Mereka juga terus bergandengan tangan dengan menggelar kongres lanjutan di tahun-tahun berikutnya.

Hingga pada akhirnya Presiden Soekarno mengeluarkan Dekrit Presiden No 316 Tahun 1953 tentang penetapan Hari Ibu sebagai penghormatan terhadap aktivis perempuan. Langkah ini mendorong perempuan terlibat aktif dalam berbagai kegiatan politik dan pengambilan keputusan. Sehingga tak hanya disubordinasi di ranah domestik saja tetapi juga memikul tanggung jawab untuk berpartisasi dalam pembangunan, baik di domestik maupun publik. Namun, tetap saja perayaan Hari Ibu tak elok jika hanya direduksi menjadi peran perempuan di dalam rumah tangga atau domestikasi.

Perayaan hari Ibu di Indonesia menjadi simbolisasi atas konstruksi sosial yang patriarkis. Hari Ibu dirayakan atas sosoknya yang lemah lembut, mengasihi, menjadi pendamping suami dan pengasuh anak. Sehingga telah terpatri dalam pikiran masyarakat bahwa hari Ibu hanya untuk mereka yang “dianggap” berhasil dalam peran domestik saja. Sedangkan perempuan yang  berjuang di publik seperti menciptakan lapangan pekerjaan, mengadvokasi kelompok minoritas, tidak dianggap sebagai ‘ibu’ yang berhasil.

Pada akhirnya polarisasi tersebut hanya menambah perpecahan dan marginalisasi antar perempuan. Memicu perdebatan mana perempuan yang sempurna mana perempuan yang gagal. Padahal, domestik maupun publik merupakan pilihan masing-masing perempuan yang mesti dihormati.

Jika di Indonesia perayaan hari Ibu hanya terbatas pada peran domestik maka di Negara lain seperti Australia, Kanada, Jerman, Jepang dan Singapura memperingati Mothers Day pada bulan Mei sebagai dukungan aktivis perempuan. Dialah aktivis sosial perlawanan Julia Ward Howe pada 1870 yang menginisiasi pentingnya perempuan bersatu melawan perang saudara.

Berbeda dengan Indonesia yang justru Mothers Day dimaknai dan dikontruksi bahkan dikomersialisasi oleh media sehingga mengendapkan konstruksi mengenai Ibu adalah perempuan yang wajib berhasil di peran domestik. Akibatnya banyak yang melupakan sejarah dibalik lahirnya Hari Ibu dan mengesampingkan peran perempuan dalam kemajuan dan pembangunan Indonesia.

Hari Ibu seyogianya dimaknai sebagai perlawanan atas opresi dan marginalisasi yang menindas perempuan. Sejarah yang ditorehkan oleh Kongres Perempuan pertama di Yogyakarta tahun 1928 sudah jelas bahwa tujuan utamanya adalah menyatukan aksi dan gerakan tentang keadilan dan kesetaraan perempuan.

Pesan yang dihadirkan dalam Kongres perempuan pertama adalah membangkitkan peran perempuan ikut serta dalam pembangunan bangsa, agar tidak hanya dikurung dalam ranah domestik saja. Sehingga sudah sepatutnya bagi seluruh elemen masyarakat termasuk laki-laki tidak hanya merayakan hari Ibu sebatas pujian pada pekerjaan domestik mereka.

Kini tidak perlu lagi memaksakan bahwa perempuan yang bekerja di luar rumah adalah yang tidak baik atau menyalahi kodrat. Begitu pula, jangan menganggap perempuan yang memilih di rumah sebagai kurang berkontribusi pada negara. Sekali lagi, hormati pilihan setiap perempuan.

Jangan pula menambah opresi terhadap perempuan dari konstruksi patriarki yang terlalu mengendap. Mulailah menghargai pilihan perempuan dan tidak melihat mereka dalam polarisasi patriarki antara “pantas” dan “tidak pantas”. Biarkanlah perempuan menentukan jalan tanpa perlu menghakimi atau dihakimi. Kembalikan esensi 22 Desember sebagai hari Ibu sebagaimana tujuan utama diadakannya Kongres Perempuan bukan sebagai upaya domestikasi perempuan.

Selamat Hari Ibu untuk Seluruh Perempuan Indonesia!

Kontributor Haidiva: Ika Setya Yuni Astuti, Mahasiswa Pascasarjana Kajian Gender, Universitas Indonesia

Spread the love

1 thought on “Hari Ibu dan Konstruksi Domestikasi Perempuan

Comments are closed.