081-2173-3281 redaksi@haidiva.com

Gerakan Perempuan Indonesia Jaga Lingkungan

Gerakan Perempuan Indonesia Jaga Lingkungan

Haidiva.com-Tanggal 10 Januari ditetapkan sebagai Hari Lingkungan Hidup Nasional oleh Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup. Nyatanya, perempuan memang memegang peranan penting dalam pelestarian lingkungan dan pencegahan bencana.

Vandana Shiva, aktivis perempuan dari India, membuat teori bernama ekofeminisme. Teori ekofeminisme menggabungkan konsep ekologi dengan feminisme yang merupakan kerangka berpikir untuk memahami kuatnya relasi perempuan dengan alam. Alam dan ketubuhan perempuan mempunyai posisi yang sama di depan mata industri dan maskulinitas (Shiva, 1981). Mereka sama-sama ditaklukan dan dieksploitasi.

Di dalam teori tersebut dijelaskan bahwa kerusakan alam akan berdampak pada pemiskinan dan penderitaan yang akan dialami oleh kaum perempuan. Secara teknis, ekofeminisme dipergunakan oleh para ilmuwan sosial untuk memahami fenomena terpuruknya kehidupan perempuan akibat kegiatan yang bersifat destruktif terhadap alam, seperti pertambangan atau pembalakan hutan. 

Di Indonesia, gerakan ekofeminis ditandai kiprah para perempuan dalam memperjuangkan kelestarian alam. Haidiva rangkum gerakan perempuan  di garda depan perbaikan lingkungan.

Gerakan Perempuan Kendeng

kbknews.co.id

Tahun 2014, Semen Indonesia berencana untuk membangun pabrik semen di Rembang. Sebagian warga Kendeng menentang pembangunan pabrik semen di wilayah tersebut karena pabrik tersebut dibangun di wilayah karst yang berfungsi untuk menyerap air, sehingga beberapa wilayah di Rembang mengalami kelangkaan air. Selain itu, amdal yang dilakukan dinilai tidak transparan.

Penggerak utama dalam perlawanan ini adalah para ibu-ibu petani Kendeng. Dalam sebuah aksi teaterikal di depan Istana Merdeka Jakarta, sembilan orang perempuan Kendeng merelakan semen mengecor kaki mereka. Sebuah simbol dari pemaknaan semiotik keberadaan pabrik semen akan mengikat kehidupan mereka.

Aleta Baun, dan Para Perempuan Penenun

fmsc.lk.ipb.ac.id

Sejak 1996, Aleta Baun mengorganisir para perempuan di Molo, Nusa Tenggara Timur. Mereka melawan industri pertambangan marmer yang akan merusak Gunung Mutis. Gunung itu memiliki keragaman hayati tinggi dan menjadi sumber pemasok air minum dan air irigasi bagi penduduk di pulau itu.

Nyawa Aleta terancam. Pemda setempat dan industri menawarkan hadiah pada siapapun yang dapat membunuh Mama Aleta. Ia lari menyembunyikan diri di dalam hutan bersama sang bayi seraya tetap mengorganisir ratusan warga desa aksi damai, menduduki tempat-tempat penambangan. Mereka protes sambil menenun. Berkat perjuangan gigih itu, perusahaan-perusahaan tambang itupun hengkang di tahun 2007.

Perempuan Koja, Jakarta Utara, Menuntut Hak Atas Air

tirto.id

Sejak akhir 1990-an, air yang mengalir di Kecamatan Koja, Jakarta Utara, tersendat setelah privatisasi air. Pipa air itu lebih dulu melewati kawasan industri Pulo Gadung dan kawasan elit di Pluit sebelum sampai ke sana. Alhasil, para ibu rumah tanggalah yang menjadi korban karena mereka harus begadang, mengangkut air, atau menunggu air mengalir semalaman agar kebutuhan seluruh keluarga terpenuhi.

Sejak 2010, mereka berjuang menuntut hak atas air mulai dari audiensi, demonstrasi, sampai gugatan pengadilan. Hingga akhirnya air lancar di tahun 2016 meski belum sepenuhnya bening. Perjuangan mereka berlangsung hingga sekarang. (ndr)

Spread the love

2 thoughts on “Gerakan Perempuan Indonesia Jaga Lingkungan

  1. Tonggak Sejarah Gerakan Perempuan di Indonesia
    August 29, 2020 at 8:39 pm

    […] Baca: Gerakan Perempuan Indonesia Jaga Lingkungan […]

  2. Perempuan dalam Perjuangan Melestarikan Ibu Pertiwi
    November 13, 2020 at 10:18 am

    […] Praktik-praktik eksploitasi dan perusakan lingkungan hidup yang dilakukan oleh negara-negara di seluruh dunia dan sebagian besar umat manusia, turut menciptakan kesadaran bergerak bagi segolongan kaum perempuan. Kesadaran tersebut mewujud dalam paham ekofeminisme yang lalu berkembang secara global. Ekofeminisme melihat keterkaitan antara manusia dengan alam. Paham ini mengharuskan laki-laki dan perempuan membangun relasi setara untuk mencegah kekerasan dan menjaga alam lingkungan tempat mereka hidup. Baca: Gerakan Perempuan Indonesia Jaga Lingkungan […]

Comments are closed.