081-2173-3281 redaksi@haidiva.com

Film Indonesia ini Tayang Terbatas di Festival Film Locarno

Film Indonesia ini Tayang Terbatas di Festival Film Locarno

Haidiva.com- Enam film karya sineas Indonesia tayang secara terbatas di bagian Open Doors Screenings Festival Film Locarno. Tahun ini, Open Doors Screening menghadirkan film panjang dan film pendek dari Indonesia, Malaysia, Filipina dan Myanmar.

Film-film tersebut tayang secara eksklusif secara daring hingga 15 Agustus di laman Festival Film Locarno. Dikutip dari laman resmi, setiap penayangan akan dilengkapi dengan pembicaraan antara sutradara dan programer Open Doors. Film Indonesia yang tayang Festival Film Locarno adalah sebagai berikut:

“Atambua 39° Celsius”

Film ini disutradari oleh Riri Riza, berkisah tentang Joao telah terpisah dari ibunya sejak berusia tujuh tahun. Ia dibawa eksodus ayahnya pindah ke Atambua setelah referendum 1999, sementara ibu dan dua adiknya yang masih bayi tinggal di Liquica, Timor Leste. Ronaldo, ayahnya, kini bekerja sebagai sopir bus antar kota. Ia sering mabuk sampai akhirnya dipecat dari pekerjan. Satu hari gadis Nikia kembali ke Atambua untuk menyelesaikan ritual duka kematian kakeknya. Joao yang biasa menghabiskan waktu menjadi tukang ojek dan bermalasan bersama teman teman remajanya berganti kebiasaan dengan ritual mengikuti Nikia. Sesungguhnya ia tidak terlalu paham mengapa

Perlahan Nikia mulai membuka hati pada Joao, sampai suatu hari Joao menunjukkan perasaannya dengan cara yang memaksa. Nikia pergi meninggalkan Atambua. Sementara, Ronaldo berkelahi di sebuah tempat bilyar, hingga ia kemudian ditahan di kantor Polisi. Joao menebus ayahnya keluar dari tahanan, kemudian pergi untuk mencari Nikia. Ronaldo pulang menemukan rumah yang kosong dan menemukan kumpulan surat dalam bentuk kaset kaset rekaman dari Istrinya

Baca juga: Film Indonesia Tahun 1950-an

“Kucumbu Tubuh Indahku”

Film ini karya Garin Nugroho yang telah mendapatkan banyak penghargaan dan banyak tayang di berbagai festival intenasional. Alur film dibagi menjadi empat babak yang mengisahkan perjalanan hidup Juno, bermula dari masa kecil, remaja, hingga dewasa. Namanya sendiri menunjukkan dua sisi mata uang, seorang pangeran tangguh buah hati Pandu dan Kunti dalam wiracarita Mahabharata dan anak yatim yang rapuh lagi lembut hati yang berjuang memecahkan rahasia akan dorongan emosi dan orientasi seksualnya.

“What They Don’t Talk About When They Talk About Love”

Film ini merupakan karya lawas dari sutradara Mouly Surya, yakni dibuat di tahun 2013. Film ini mengisahkan tentang Fitri, seorang perempuan yang tidak bisa melihat sejak lahir.Fitri jatuh cinta pada seorang dokter hantu, yang tinggal di sekitar kolam renang terapi di halaman belakang sekolahnya.Suatu hari, sang dokter hantu membalas suratnya, dan melihat Fitri tanpa mengucapkan sepatah kata pun pada gadis itu Sang dokter hantu yakni seorang pria tuli berusia 30 tahun bernama Edo.

Baca juga: Film Indonesia asal Wattpad

Sementara itu, Diana adalah seorang gadis berusia 17 tahun yang menderita miopia dan hanya memiliki jarak pandang sejauh 2 cm. Hingga suatu hari, dunianya berubah dengan kedatangan Andhika, seorang murid baru di sekolah untuk anak-anak berkebutuhan khusus.Apakah Andhika juga mencintai Diana?

Sementara film pendek dari Indonesia yang tayang terbatas di festival ini meliputi “Kado” dari Aditya Ahmad, “Tak Ada yang Gila di Kota ini” dari Wregas Bhanuteja” dan “On Friday Noon” dari Luhki Herwanayogi. Festival Film Locarno adalah sebuah festival film internasional yang diadakan secara tahunan pada bulan Agustus di kota Locarno, Swiss sejak 73 tahun lalu.**

Spread the love