Fenomena Perempuan Pekerja Lapangan

Fenomena Perempuan Pekerja Lapangan

Haidiva.com-Pekerja lapangan atau bisa dibilang bekerja di luar kantor. Kini tidak hanya para lelaki yang bekerja di luar kantor. Banyak  perempuan yang rela bekerja dan terjun langsung ke lapangan, menghadapi panas, hujan, debu, dan lain sebagainya. Kini pekerjaan sudah tidak memandang jenis kelamin, pekerjaan laki-laki pun bisa di kerjakan oleh perempuan.

Kini perempuan tidak cuma bekerja di rumah, banyak di jaman sekarang perempuan juga bekerja baik di dalam kantor maupun di luar kantor. Kali ini akan membahas sedikit mengenai perempuan yang bekerja di luar kantor atau yang terjun langsung ke lapangan.

Banyak profesi yang digeluti oleh para perempuan di era modern saat ini, banyak di temui perempuan yang bisa mengoperasikan alat berat, mengelas, mengaduk semen, seorang safety officer, electrical technic, dan lain sebagainya. Mereka mesti melakukan pelatihan sebelum terjun ke lapangan.

Di jaman yang modern ini tidak hanya laki-laki yang di tuntut bisa bekerja keras, perempuan juga tak luput ingin ikut membantu. Banyak perusahaan yang mulai menerapkan budaya meritokrasi yang memberi peningkatan jabatan dan gaji berdasarkan kinerja, bukan hal lain seperti jenis kelamin, lama bekerja, bahkan tingkat pendidikan. Di sini, perempuan bisa bersaing secara imbang.

Banyak para perempuan yang tidak sungkan berbaur dengan rekan-rekan pekerja laki-laki. Tidak sedikit juga para anak gadis atau seorang ibu yang rela merantau untuk mencari rejeki. Seperti contoh para pekerja proyek, seorang perempuan yang bekerja di proyek sering ditemui adalah seorang safety. Ketika dia sudah berada di lapangan, ia tidak memikirkan lagi bagaimana perawatannya, yang ia pikirkan adalah bagaimana ia menjaga keselamatan para rekan-rekannya, mencari uang untuk hidup di perantauannya, dan keluar dari zona nyamannya. Banyak risiko yang akan di temui oleh para pekerja perempuan di luar sana, maka harus pintar-pintar kita menyikapinya.

Kelancaran pembangunan di Indonesia sangat memerlukan partisipasi seluruh rakyat Indonesia, termasuk perempuan. Apalagi, kurang dari separuh penduduk Indonesia adalah perempuan. Survei Penduduk Antar Sensus 2015 menunjukkan jumlah laki-laki adalah 134 juta jiwa sedangkan perempuan 132 juta jiwa. Tak aneh bila keterlibatan perempuan pada sektor publik menunjukkan angka yang terus meningkat.

Beberapa faktor yang melatar belakangi mengapa terjadi peningkatan tersebut antara lain : tingkat pendidikan yang dimiliki, desakan ekonomi keluarga, waktu luang yang dimiliki perempuan. Keperluan akan peningkatan ekonomi rumah tangga merupakan salah satu alasan utama para perempuan meninggalkan peran mereka hanya sebagai ibu rumah tangga dan masuk ke pasar kerja.

Para pekerja perempuan juga sudah di atur dalam Undang-Undang no.13 tahun 2003 tentang ketenagakerjaan, perempuan di beri keistimewaan hak-haknya atas lelaki di sebabkan karena kaum perempuan menjalani fungsi reproduksi yang tidak dimiliki oleh kaum lelaki. Haid, hamil, melahirkan dan menyusui merupakan kodrat kaum perempuan yang sudah diberikan oleh Tuhan Yang Maha Esa. Karena itu di perlukan perlindungan khusus kepada perempuan agar produktivitas di tempat kerja dan di rumah selalu terjaga.

Banyak fenomena di Indonesia bahkan di dunia Internasional perempuan yang bekerja di luar rumah dengan berbagai alasan. Untuk mereka yang sudah menikah tentu harus ada ijin yang jelas dari keluarga, dan alasan yang jelas. Banyak pekerjaan mulia di luar sana bagi perempuan, bekerja sekaligus menolong orang. Indonesia tentu masih butuh kontribusi para kaum perempuan untuk pembangunan. Lapangan pekerjaan sekarang sudah tidak memandang gender, dan perempuan bisa maju untuk menunjukkan kemampuannya.

Penulis: Novia Dyah Palupi

Peserta kompetisi “Lomba Menulis Artikel dengan Tema Strong Women” yang diadakan Haidiva.com dalam memperingati Hari Ibu.

Spread the love