Fenomena Kodokushi Negara Jepang, Meninggal dalam Kesendirian

Fenomena Kodokushi Negara Jepang, Meninggal dalam Kesendirian

Haidiva.com-Diva, masih ingat kah dengan kasus penemuan kerangka manusia di sebuah rumah kosong kawasan Margahayu, kabupaten Bandung pada 14 Januari 2020 lalu? Atau penemuan mayat pasutri lansia di Mungkid, kabupaten Magelang pada Januari 2019 lalu? Dua kasus yang cukup heboh diberitakan itu punya cerita yang hampir sama.

Kasus di Bandung terjadi di sebuah rumah kosong yang memang sangat jarang dikunjungi oleh sang pemilik, sedangkan kasus di Magelang menimpa pasutri lansia yang memang hanya tinggal berdua di rumah sedangkan sang istri dalam kondisi sakit stroke. Kematian ketiga korban tersebut terlambat diketahui hingga kondisi mayat sudah membusuk bahkan hingga tersisa kerangka saja.

Nah kasus semacam ini lebih sering terjadi di negara sakura Jepang, kejadian meninggal dari orang-orang yang hidup sendirian. Fenomena ini disebut dengan kodokushi. Dalam bahasa Jepang, kodokushi sendiri berarti mati kesepian.

Dilaporkan pada tahun 2009 oleh National Broadcasting Network Jepang, sekitar 32.000 manula meninggal dalam kondisi sendirian. Pada tahun yang sama, menurut perkiraan biro statistik Jepang total penduduk jepang adalah 127.530.000 orang. Maka jika dirata-rata, sebanyak 2,5 persen penduduk Jepang menjadi korban kodokushi pada tahun 2009 dengan 80 persen dari korban berjenis kelamin laki-laki.

Kodokushi di Jepang mulai merebak sejak tahun 1983 dengan peningkatan kasus sekitar tiga kali lipat di dekade tahun 90-an. Sebagaimana fenomena karoshi, yaitu kasus kematian akibat kelelahan bekerja, kasus-kasus kodokushi juga banyak yang tidak tercatat di dalam statistik resmi sehingga sulit diketahui data akurat perkembangan kodokushi di Jepang.

Kodokushi umumnya terjadi pada penduduk lansia yang memang tinggal sendiri di masa tuanya, baik di rumahnya sendiri maupun di rumah tinggal sewa seperti flat atau apartemen. Kematiannya beragam mulai dari sakit yang umum diderita lansia seperti jantung hingga kecelakaan karena jatuh di dalam rumah.

Karena tinggal sendiri di dalam rumah, maka kematian mereka cenderung terlambat diketahui. Keberadaan jenazah baru akan diketahui saat sudah mulai tercium bau busuk dari rumah tinggal mereka. Laporan pertama sering diterima dari para tetangga yang mengaku mencium aroma busuk dari kediaman korban.

Para lansia yang tinggal seorang diri tersebut dipicu oleh beberapa hal seperti buruknya hubungan dengan keluarga, perceraian yang memicu rasa enggan untuk kembali menjalin hubungan atau relasi, hingga pilihan untuk hidup melajang. Umumnya, para korban kodokushi minim relasi dengan sesama lansia di lingkungan sekitar.

Meski lebih banyak terjadi pada kelompok lansia, namun kodokushi juga mulai banyak menjangkit kawula muda yaitu dalam rentang usia 20 hingga 30 tahun. Berdasarkan data Biro Kesejahteraan Sosial dan Kesehatan Masyarakat pemerintah kota metropolitan Tokyo, sebanyak 238 orang dalam rentang usia tersebut ditemukan meninggal dunia sendirian di 23 wilayah yang berbeda sepanjang tahun 2015.

Kodokushi di usia muda ini banyak dipicu perubahan cara pandang kawula muda Jepang yang memandang bahwa berkarir menjadi prioritas utama dibanding dengan membangun keluarga. Berdasarkan data dari Institut Riset Populasi dan Keamanan Sosial Nasional yang dikutip dalam Kompas, tingkat persentase total penduduk Jepang yang hidup melajang meningkat sebanyak 4,3% dari tahun 2000 hingga 2015.

Rendahnya angka pernikahan karena biaya hidup yang tinggi saat berkeluarga. Beban ganda di rumah tangga dan pekerjaan bagi perempuan, sementara laki-laki menikah hanya fokus pada karier, juga membuat mereka memilih melajang.

Selain karena faktor perubahan gaya hidup, kodokushi juga dipicu oleh fenomena hikikomori, yaitu orang-orang yang menarik diri dari kehidupan sosial dan cenderung memilih untuk mengurung diri. Fenomena anti sosial di kawula muda Jepang ini rata-rata dialami kaum laki-laki yang dipicu depresi akibat tekanan seperti kegagalan maupun bullying.

Hal unik dari fenomena kodokushi ini adalah munculnya berbagai jasa pembersih rumah lokasi kodokushi di Jepang. Para penyedia jasa ini menawarkan layanan pembersihan menyeluruh terhadap lokasi terjadinya kodokushi, mulai dari pembersihan lokasi hingga penyortiran barang-barang korban.

artforia.com

Sebelum memulai pekerjaannya, petugas akan terlebih dahulu melakukan ritual doa sebagai bentuk penghormatan kepada korban. Selanjutnya tim akan mulai membersihkan lokasi mulai dari titik ditemukannya mayat yang umumnya dipenuhi cairan hingga larva dan serangga yang tersisa di lokasi selama proses pembusukan mayat.

Barang-barang di rumah tinggal korban juga disortir menjadi barang-barang kenangan bagi keluarga korban, barang yang dapat dijual kembali, hingga barang yang masih dapat didaur ulang. Barang-barang kenangan korban seperti foto dan buku harian akan diserahkan kepada pihak keluarga meski tak jarang pihak keluarga cenderung tidak peduli dan tidak ingin menerima barang apapun dari korban. Barang-barang lainnya akan menjadi sumber pendapatan bagi pihak penyedia jasa. Penyedia jasa ini juga melakukan ritual penyucian terhadap lokasi setelah tuntas proses pembersihan serta terhadap barang-barang korban sebelum dilakukan pemusnahan.

Selain jasa pembersihan lokasi, muncul juga penyedia jasa asuransi perlindungan bagi para pemilik rumah sewa terhadap kasus kodokushi. Sehingga apabila terjadi kasus kodokushi di salah satu rumah sewanya, maka pihak pemilik tidak perlu lagi mencari jasa pembersih, namun seluruh proses pembersihan rumah sewa hingga siap disewakan atau dijual kembali akan dilakukan oleh pihak penyedia jasa asuransi.

Tingginya kasus kodokushi di Jepang ini mendorong pemerintah untuk melakukan langkah-langkah pencegahan. Pemerintah mulai menggalakkan layanan kontrol atau pemeriksaan rutin ke rumah-rumah para lansia yang hidup sendirian. Selain itu pemerintah juga mendorong masyarakat untuk meningkatkan komunikasi di lingkungannya dengan cara saling mengontrol rumah-rumah tetangga khususnya rumah-rumah dengan penghuni lansia seorang diri.

Wah Diva, rupanya fenomena kodokushi di Jepang ini cukup mencengangkan ya.

Kontributor Haidiva:  Dian Lestari Wilianingtyas, (masih) Cungpret.

Spread the love

1 thought on “Fenomena Kodokushi Negara Jepang, Meninggal dalam Kesendirian

Comments are closed.