Diam, Bukan Berarti Korban Perkosaan Menikmati

Diam, Bukan Berarti Korban Perkosaan Menikmati

Haidiva.com-“Kenapa diam, kenapa ga teriak atau melawan, menikmati ya?” Tuduhan orang ke banyak korban perkosaan yang hanya diam ketika perkosaan terjadi. Alih-alih memberi dukungan kepada korban, perspektif ini justru membuat para korban semakin tenggelam dan tak berani berbicara.

Padahal, peneliti dari Swedia merilis hasil penelitiannya yang mematahkan mitos perkosaan yang mengatakan bila tak melawan artinya menikmati. Dilansir dari Live Science (2017), peneliti Anna Moller mengatakan riset tersebut menemukan adanya gejala kelumpuhan sementara yang dialami sebagain korban perkosaan ketika diserang oleh pelaku.

“Gejala kelumpuhan tersebut bernama Tonic Immobolity, reaksi yang disebabkan karena perasaan takut yang luar biasa,” tulis Moller dalam penelitiannya.

Kelumpuhan sementara tersebut disebabkan aktivitas hormon tertentu yang bernama corticostereoid. Hormon ini mereduksi tenaga korban sehingga tubuh tak bisa digerakkan. Sedihnya lagi, kondisi menyebabkan korban perkosaan lebih depresi dibanding korban yang bisa melawan.

“Karena banyak korban yang tak menyadari bahwa kelumpuhan bersifat alami, sehingga mereka menyalahkan diri sendiri,” kata Moller.

Penelitian Moller dan teman-temannya juga menunjukan bahwa Tonic Immobolity ternyata dialami oleh 7 dari 10 korban perkosaan. Artinya, kondisi ini dialami oleh mayoritas korban perkosaan.

insidehigered.com

Setelah terjadi perkosaan pun, seringkali korban tetap diam tak berani bersuara karena adanya rape culture dalam budaya masyarakat kita yang menyebabkan victim blaming atau menyalahkan korban. Sesuatu yang bisa jadi dilakukan oleh aparat penegak hukum seperti polisi bahkan hakim.

Contoh rape culture di masyarakat kita ialah menyalahkan korban atas pilihan baju atau aktivitasnya yang dianggap mengundang perkosaan. Apalagi adanya grooming terhadap pelaku seolah-olah dia berhak melakukan hal tersebut terhadap korban.

“Dia rajin beribadah tak mungkin melakukan itu kalau bukan mau sama mau,”

Dari sini, Haidiva mengajak kamu lebih peduli dengan kasus pelecehan dengan melihat pada perspektif korban. Jika kamu atau orang yang kamu kenal pernah mengalami pelecehan, segera ke Women Crisis Center terdekat untuk mendapatkan perlindungan hukum dan pemulihan pasca trauma.**

Spread the love

3 thoughts on “Diam, Bukan Berarti Korban Perkosaan Menikmati

Comments are closed.