081-2173-3281 redaksi@haidiva.com

Di Penghujung Usia Mamak

Di Penghujung Usia Mamak

Haidiva.com-Mamak sebutan lain dari panggilan seorang ibu. Mamak tidak  mau dipanggil Ibu, tetapi kadang-kadang kami sekedar menggoda, memanggil-manggil “Ibu, Ibu”.

Aku kini mulai menyadari, ternyata kedua orangtuaku semakin tua, seiring dengan waktu dan usia yang begitu saja cepat berlalu. Tradisi dalam keluarga tidak pernah mengadakan hari ulang tahun dengan pesta besar untuk merayakan bertambahnya usia. Tapi yang pasti selalu aku ingat, satu hari dari tanggal kelahiran itu menjadi spesial dengan ungkapan doa serta ciuman di kening, lalu kedua pipi salah satu di antara kami bertiga yang bertepatan ulang tahun.

Raut wajah mamak seolah tak punya beban dalam hidupnya. Gambaran itu terlihat dari senyuman lebar ketika sudut bibir tertarik kanan dan kiri. Walaupun aku tahu pasti banyak keinginan yang belum tercapai lantaran mengalah demi kebutuhan anak putri-putrinya.

Sejak kecil, sampai saat ini kami sudah besar, mamak tetap saja memberikan pertanyaan yang tertuju pada keinginan kami setiap kali di pasar atau sekadar mampir di warung.

 “Kamu mau apa mbak?”

Kebiasaan dalam segala aktivitas yang mamak lakukan seolah sudah menjadi hal terpatri dalam ingatan, yang indah menjadi kenangan, sedangkan yang buruk  perlu menjadi pembelajaran. Sebenarnya tidak pernah ada yang buruk di segala sikap mamak, tetapi kamilah yang selalu membuat gara-gara, sehingga memunculkan keadaan yang tidak enak.

Mamak tersenyum ria di depan anak-anak TK (Taman Kanak-kanak) sambil menyanyikan lagu Balonku Ada Lima, Cicak-Cicak di Dinding, serta Aku Anak Sehat, sebagai profesi sehari-hari yang tersalurkan kepada kami anak-anaknya di rumah. Alhasil, suasana rumah menjadi lebih menyenangkan.

Soal makanan yang dimasak mamak tentu menjadi idaman setiap anak. Salah satu makanan khas yang saat ini kami rindukan ialah sayur kembang kates. Kesederhanaan dalam suasana rumah, segala hal tentang keluarga sangat dirindukan.

Mamak tak pernah meminta bapak untuk membelikan ini itu. Kami banyak belajar dari mamak bagaimana menjadi sosok istri idaman kelak. Kesabaran memberikan petuah berupa nasihat, dengan omongan panjang kali lebar. Malam harinya sudah menjadi kebiasaan bagi kami untuk memijit bagian kaki yang sakit dari mamak.

Sontak pikiran kami ingat kembali, dahulu semasa kami kecil, mamak yang memijit kami. Kini, semua sudah terbalik. Usia mamak semakin renta, terlihat uban di rambut kepala yang selalu membuat gatal, sehingga meminta kami untuk dicabut. Tak perlu heran jika di depan teras rumah terdapat sisa-sisa rambut berwarna putih.

Mamak menjadikanku mempunyai satu kalimat yang sangat berarti dalam hidup. “Seseorang yang akan mendapatkanku pasti akan beruntung, sebab tak mau banyak inginku, sepertihalnya cinta antara mamak dan bapak yang penuh dengan kesederhanaan.”

Penulis: Yesi Wening Sari

Peserta kompetisi “Lomba Menulis Artikel dengan Tema Strong Women” yang diadakan Haidiva.com dalam memperingati Hari Ibu.

Spread the love