Delegasi Pengasuhan karena Kewajiban

Delegasi Pengasuhan karena Kewajiban

Haidiva.com-Pagi-pagi, seorang perempuan terlihat menangis ketika keluar rumah. Nampaknya, ia hendak berangkat ke kantor karena berpakaian rapi dan resmi. Ia menutup mukanya dengan tisu dan terus melangkah tanpa memperdulikan sekitarnya.

Jika ia terisak karena harus meninggalkan seorang putri yang terdengar menangis di belakangnya maka ia adalah perempuan hebat nan kuat. Perempuan mana yang tidak ingin mengasuh anak kandung dengan tangannya sendiri.

Setelah hamil dan melahirkannya dalam usia sembilan bulan dengan susah payah, saya yakin takkan mudah bagi perempuan manapun untuk meninggalkannya di rumah. Jikapun harus, saya juga yakin semua karena keterpaksaan.

Jika memang kita harus meninggalkan si buah hati kesayangan di rumah maka titipkan dengan orang yang amanah, saleh dan faham tentang pengasuhan. Sulit pasti mencari yang ideal seperti ini tapi mungkin untuk diikhtiarkan. Karena masa kanak-kanak terutama usia emas merupakan masa di mana mereka menyerap segala yang terjadi di lingkungannya dengan sempurna. Pastikan lingkungan kondusif bagi si kecil untuk berkembang baik tanpa mencederai hak-haknya.

Seperti halnya kisah tabi’in imam Hasan al-Bashri, ulama besar yang terlahir dari pasangan orang tua budak di rumah ummahatul mukminin, ummu Salamah. Tetapi ia lebih sering menghabiskan waktunya bersama tuan rumah sementara ibunda sibuk dengan tugas-tugas rumah tangga  yang harus dikerjakannya. Tidak hanya itu, ia bahkan disusui oleh ummu Salamah.

Dikisahkan dari buku Tabi’in juga bahwa sang imam tumbuh menjadi seseorang yang berakhlakul karimah. Selain dari keberkahan air susu yang ia dapatkan dari seorang perempuan mulia, sehari-hari ia juga belajar dari Ummu Salamah dalam interaksi kesehariannya. Imam besar Hasan al-Bashri kemudian dikabarkan dimerdekakan dan pulang ke kampung halamannya bersama kedua orang tuanya dan menjadi ulama besar di sana.

Kisah lainnya datang dari Muhammad Al-Fatih. Ia dibesarkan oleh seorang ulama di mana beliau selalu memberinya motivasi tentang bisyarah Rasulullah setiap saat. Dengan upaya yang ada Al-Fatihpun menjadi legenda, tidak hanya itu ia menjadi inspirasi bagi semua yang memiliki semangat tinggi akan amaliahnya untuk kehidupan.

Rasulullah sendiri dititipkan pada seorang saleh dengan lingkungan yang baik, jauh dari ibundanya. Suku di mana Rasulullah dititipkan terkenal memiliki budaya yang kuat, begitupun dengan budaya bahasanya. Sehingga kita bisa melihat bahwa salah satu yang menjadi keistimewaan Rasulullah adalah bahasa Arab yang beliau adopsi dari suku tersebut.

Dengan mentauladani kisah di atas maka seorang perempuan tangguh yang terpaksa bekerja di luar rumah akan merasa tenang untuk meninggalkan anak-anaknya di rumah. Sungguh lengkap ajaran yang ditinggalkan Rasulullah tercinta di muka bumi ini.

Penulis: Rina Oktasari

Peserta kompetisi “Lomba Menulis Artikel dengan Tema Strong Women” yang diadakan Haidiva.com dalam memperingati Hari Ibu.

Spread the love