Cara Rayakan Valentine dengan Positif

Cara Rayakan Valentine dengan Positif

Hadiva.com-Miss Indonesia 2017 yang juga masuk 10 besar Miss World 2017, Achintya Nilsen, mengunggah ajakan untuk merayakan Valentine’s Day dengan cara yang positif. Lewat Instagram story-nya, Tya mengajak untuk melakukan pemberdayaan sesama perempuan.

“Valentine kali ini, aku mengajakmu untuk tak hanya merayakannya sebagai hari kasih sayang antara kekasih. Tetapi juga merayakannya dengan menyebarkan cinta ke komunitas sekitarmu. Hari untuk berbagi kebaikanmu kepada orang-orang yang kurang beruntung. V-day juga dikenal sebagai hari pemberdayaan. Sebuah hari untuk mengakhiri kekerasan terhadap perempuan dan anak perempuan. Aku mengajakmu hari ini untuk menjadi berani dan bersikap melawan ketidakadilan. Dan gunakan suaramu untuk kebaikan.”

instagram.com/tyanilsen

Haidiva sepakat dengan Tya bahwa Valentine Day bisa dirayakan dengan cara yang positif dan produktif. Perempuan memang seharusnya menguatkan sesama perempuan. Kali ini, Haidiva mengajakmu untuk tidak melakukan perbuatan yang justru melemahkan perempuan, contohnya sebagai berikut.

Body Shaming

“Item banget sih,” “Dasar gendut!”

Body shaming adalah jenis perundungan yang mengomentari fisik atau tubuh dengan cara yang negatif. Namanya perundungan, pasti akan membuat korban merasa tidak percaya diri dan bisa membuatnya depresi.

Rape Culture

“Halah, digoda doang, gitu aja marah,”

Menurut kamus Oxford, rape culture adalah istilah yang menggambarkan suatu masyarakat ataupun lingkungan yang terkesan menyepelekan pelecehan seksual. Secara tidak langsung, masyarakat melanggengkan praktik pemerkosaan di lingkungannya.

Victim Blaming

“Salah sendiri keluar sendirian, diperkosa deh,”

Victim blaming merupakan istilah menyalahkan korban atas bencana yang dia alami. Istilah ini merupakan imbas dari culture rape. Menyalahkan korban justru membuat banyak korban lain yang tak berani bersuara sehingga pelaku semakin mempunyai kesempatan untuk berbuat lagi karena mendapatkan dukungan publik. Alih-alih pelaku pelecehan seksual atau kejahatan ditindak, justru suara korban yang dibungkam.

Dikutip dari buku Men Who Rape. The Psychology of the Offender yang merupakan hasil penelitian doctoral Nicholas Groth, pelaku perkosaan melakukan tindakan tersebut bukan karena baju perempuan atau bahkan karena nafsu, melainkan karena relasi kuasa yang berada lebih tinggi dibanding korban.

Adanya victim blaming dan cultural rape samakin membuat pelaku lebih berkuasa dibanding korban dan calon korbannya.

Cultural Bias

“Ih masak perempuan ga bisa masak, bukan perempuan sejati itu,”

Cultural bias adalah fenomena menghakimi pilihan hidup orang lain berdasarkan nilai-nilai yang kita anut. Padahal, setiap orang berhak mempunyai nilai atau prinsip masing-masing. Ingatlah, apa yang kita anggap benar belum tentu orang lain menganggap hal yang serupa. Bukankah kita juga tidak suka saat orang lain menganggap buruk pilihan hidup kita?

Misogini

“Bu Donna itu cerewet, salah dikit aja langsung nyap nyap,” sementara itu, “Pak Donni itu tegas dan detail, dia sama sekali tak mau ada kesalahan sekecil apapun.”

Sungguh sifat yang sama tetapi dipersepsikan hal yang berbeda. Dikutip dari Science Daily, misogini adalah sindrom yang menunjukkan seseorang membenci perempuan tanpa alasan yang jelas, baik dari laki-laki maupun sesama perempuan. Banyak orang yang tidak menyadari bahwa dia mengalami sindrom misogini.

Nah, sekarang kamu bisa tahu hal yang seharusnya tidak boleh dilakukan kepada sesama perempuan. Tak perlu merasa tersaingi dengan perempuan lain tanpa alasan yang jelas. Perempuan sebaiknya menguatkan perempuan, seperti yang Haidiva lakukan untukmu. 

Spread the love

1 thought on “Cara Rayakan Valentine dengan Positif

Comments are closed.