081-2173-3281 redaksi@haidiva.com

Cara Memasak Makanan Sehat dan Ramah Lingkungan (Bag Kedua)

Cara Memasak Makanan Sehat dan Ramah Lingkungan (Bag Kedua)

Haidiva.com– Di rubrik sebelumnya, kita membahas mengenai cara mengolah makanan sehat menurut ahli gizi dan Masterchef Indonesia. Jaqualine Wijaya, CEO Food Sustainesia, mengatakan pilihlah bahan makanan sehat yang higenis, ekonomis, dan berkelanjutan.

Hygienic berarti memastikan makanan yang dikonsumsi tidak membahayakan kesehatan tubuh. Nutritious berarti menyehatkan tubuh, memakai bahan yang sealami mungkin, dan mengandung nilai gizi yang diperlukan oleh tubuh. Sedangkan Economically Feasible berarti harganya bisa diakses oleh banyak kalangan, termasuk bahan pangan organik yang selama ini masih terbilang mahal.

Inilah lanjutannya

Jutaan cara minimalkan food waste

Percaya atau tidak, setiap tahun Indonesia menghasilkan 13 juta ton sampah makanan atau food waste, setara dengan 500 kali berat Monas! Padahal, makanan sebanyak itu bisa dikonsumsi oleh 28 juta orang. Angka yang fantastis, yang membuat kita jadi berpikir ulang untuk membuang makanan.

Ada begitu banyak cara untuk meminimalkan sampah makanan. Brian bercerita, di musimnya dulu peserta MCI mendapat tantangan food waste management. Siapa yang sampahnya paling sedikit, dia yang unggul. “Dari satu produk saja, katakanlah udang, semua bagiannya bisa dimanfaatkan. Setelah diambil dagingnya, kulit dan kepalanya bisa disangrai, lalu dibuat kaldu. Semua bagian brokoli juga bisa dimanfaatkan. Bukan hanya bunganya, batangnya juga bisa dimasak. Batang kangkung dan batang bayam juga masih bisa dimasak, dan mengandung zat gizi,” kata Brian.

Baca juga: Cara kurangi sampah makanan

Masakan sisa semalam juga bisa dikreasikan semaksimal mungkin. Aziz mencontohkan, seandainya masih ada sisa lodeh, sayur itu bisa dikembangkan lagi menjadi hidangan baru. “Misalnya, ditambahkan potongan kentang, lalu dihaluskan dan dijadikan lodeh cream soup. Atau, dijadikan saus pasta. Kuah sayur lodeh digodok lagi sampai airnya berkurang banyak, tambahkan tepung hingga kental.”

Puteri, Aziz, dan Brian juga menyebutkan tentang ugly produce yang tak dilirik orang, karena penampilannya tidak menarik. Orang menganggap ugly produce itu sebagai bahan makanan busuk. Padahal, tidak demikian. Kandungan gizinya juga sama seperti produk yang bentuknya sempurna. Menurut Puteri, perubahan warna pada brokoli sehingga agak kekuningan, misalnya, tak mengubah nilai gizi secara signifikan. Selama cirinya sama seperti brokoli pada umumnya, berarti dia masih layak makan.

“Banyak orang membuang pisang yang kulitnya sudah cokelat, karena dianggap busuk. Padahal, pisang sangat matang mengandung antioksidan sangat tinggi. Pisang hijau, kuning, atau cokelat punya zat gizi yang sama. Contoh lain, ketika kita membuat jus apel dan tidak langsung diminum, ampas yang naik ke permukaan kerap dibuang. Padahal, di situlah sumber nutrisinya. Jadi, orang berpikir, ketika penampilan luarnya tidak bagus, berarti dia juga tidak bagus bagi tubuh,” kata Puteri.

Pangan lokal lebih keren

Sepotong salmon memang terlihat menggiurkan, karena warna jingganya tampak segar. Apalagi, ikan ini disebut-sebut mengandung omega 3 yang sangat tinggi. Masalahnya, harga salmon terbilang mahal. Relakah kita mengeluarkan banyak uang untuk belanja salmon, padahal ada ikan lokal yang lebih hebat? Kata Puteri, Indonesia punya beberapa jenis ikan kembung yang kandungan omega 3-nya tiga kali lipat lebih tinggi daripada salmon.

Baca juga: Gaya hidup murah, ramah lingkungan

Aziz dan Puteri sepakat, salah satu keuntungan belanja bahan lokal adalah harganya yang rata-rata jauh lebih terjangkau. Soalnya, bahan pangan itu tersedia di Indonesia, mudah diakses, dan jumlahnya berlimpah.

“Makin cepat dipanen dan makin cepat dikonsumsi, suatu bahan pangan akan lebih baik bagi tubuh kita, dibandingkan makanan beku. Produk impor umumnya dipetik atau dipanen sebelum waktunya, dikemas sedemikian rupa agar nilai gizinya tidak berkurang. Bahan lokal di negara kita sudah sangat mencukupi, karena Indonesia kaya banget. Hanya tinggal bagaimana mengelola ekosistem agar produk lokal bisa diakses masyarakat lokal pula,” kata Aziz.

Puteri menambahkan, memilih produk lokal berarti juga meminimalkan carbon footprint. Mengurangi dampak perubahan iklim bisa dilakukan dengan mengurangi asupan makanan impor. Selain itu, memilih pangan lokal akan membantu melindungi bumi agar lingkungan kita lebih lestari.

Jaqualine mengakui, saat mendapati bahwa kualitas produk impor lebih baik, akan sulit bagi konsumen untuk memilih produk lokal. Apalagi, jika harganya kompetitif atau beda-beda tipis. “Ini memang tantangan. Selain edukasi, kita perlu bekerja sama dengan produsen lokal agar mereka memastikan produknya dibuat sebaik mungkin. Dengan begitu, orang memilih produk lokal karena kualitasnya, bukan sekadar kelokalannya. Apalagi, fresh produce. Yang jelas, dengan memilih produk lokal, berarti kita mendukung petani dan nelayan lokal. Dampak lingkungan jadi lebih minimal.”

Baca juga: Situs belanja sayur online, referensi di rumah saja

Ubah mindset, ubah perilaku

(Shutterstock)

Mengubah perilaku secara drastis, apalagi ekstrem, akan terasa berat. Karena itu, Jaqualine menyarankan untuk melakukan langkah kecil, dimulai dari memilih makanan yang lebih baik. “Kalau sekarang belum makan sehat, yuk, mulai makan sehat dengan konsumsi lebih banyak sayuran, misalnya. Kalau sudah, buatlah makanan itu lebih bervariasi, lebih bergizi, lebih seimbang garam, gula, dan lemaknya. Jika itu juga sudah, mungkin ini saatnya Anda pilih makanan lebih green. Contohnya, mengganti nasi putih dengan nasi merah. Jika ingin lebih sustainable, belilah beras merah organik.”

Siapa yang sering belanja banyak, ketika ada diskon besar di supermarket? Aziz menyarankan, ketika belanja bahan pangan, akan lebih baik jika kita memikirkan dulu apakah kita punya waktu dan energi untuk mengolahnya. “Kalau tinggal sendiri, biasanya akan banyak food waste. Jadi, meski harganya murah, jangan beli terlalu banyak sehingga malah akan busuk dan terbuang.”

Ia menambahkan, sebaiknya kita tidak mudah tergiur oleh makanan yang sedang tren, padahal belum tentu enak. “Bisa jadi hanya kelihatannya saja enak. Karena itu, sebelum mencoba, pikirkan dulu apakah kita bisa berkomitmen untuk menghabiskan. Kalau tidak habis, kan, ujung-ujungnya masuk tempat sampah. Kasihan petaninya. Kita perlu bertanggung jawab terhadap aksi kita sendiri,” kata Aziz.

Sependapat dengan Aziz, Brian memberi saran, pastikan makanan yang dimasak itu memang disukai oleh Anda dan keluarga, bukan sekadar ikut tren, lalu tidak ada yang memakan dan menghabiskannya.

“Kalau sudah membangun kebiasaan mengonsumsi makanan yang lebih sustainable, kita bisa beranjak mengolah food waste untuk dibuat jadi makanan baru atau dibuat kompos. Dan, membangun kebiasaan lain agar tidak membuang makanan, baik makanan matang maupun bahan mentah. Sehingga, pilihan kita akan makanan sehat bukan hanya berdampak pada diri sendiri, melainkan juga pada lingkungan,” kata Jaqualine, yang sedang mengadakan tantangan #OurFoodChoiceMatters di media sosial.

Spread the love

One thought on “Cara Memasak Makanan Sehat dan Ramah Lingkungan (Bag Kedua)

  1. Tips Memilih Bahan Makanan Ramah Lingkungan dan Sehat
    Juni 7, 2024 at 3:35 pm

    […] Baca juga: cara memasak makanan sehat dan ramah lingkungan […]

Comments are closed.