Beauty Privilege, Hak Istimewa Orang Cantik

Beauty Privilege, Hak Istimewa Orang Cantik

Haidiva.com-Tak masalah tidak cantik, asal hatimu baik. Sebuah mantra yang membantu kita bersyukur dan menerima segala bentuk tubuh. Nyatanya di kehidupan sehari-hari, perempuan yang menarik secara fisik alias cantik, tetap mempunyai hak istimewa dibandingkan wajah biasa-biasa saja. Beauty privilege, artinya hak istimewa orang cantik yang membedakan mana yang jelita, atau sekadar jalata.

Beauty privilege menjelaskan mengapa perempuan cantik terpilih sebagai homecoming queen, perwakilan kelas, dan pacar atlet. Beauty privilege menjelaskan seberapa banyak kamu menghabiskan waktu di depan cermin atau kamera untuk membuat wajah menawan,” kata Amy Waterman, kolumnis dari media Yourbriliance.

Amy menjelaskan bahwa beauty privilege menjawab mengapa selebritis seperti Selena Gomez atau Emily Ratajkowski mempunyai puluhan jutaan follower. Sementara akun  perempuan inspiratif seperti Gloria Steinem atau Malala, pecah satu juta  follower saja sudah untung.

Selena Gomez mempunyai 180juta pengikut di Instagram

Baca juga: Kamu Perlu Tahu Body Positivity

Dan pendapat Amy tentang perempuan cantik itu lebih mudah menjalani hidup dibanding yang biasa, dibuktikan oleh ekonom ternama Daniel S Hamermesh dan Jeffe Biddle. Mereka meneliti menganai daya tarik fisik atau beauty privilege terhada upah dan pekerjaan. Hasilnya menunjukkan bahwa perempuan cantik lebih mudah mendapatkan pekerjaan dan gaji yang lebih tinggi dibandingkan yang berwajah biasa.

“Perusahaan lebih suka merekrut kandidat yang menarik. Pelanggan lebih suka bertemu dengan tenaga penjualan yang tampan atau cantik,” ujar Amy mengutip hasil penelitian ekonom tersebut.

Karena itulah, Amy melihat saat ini banyak kedai kopi yang memilih merekrut barista muda yang menarik dan energik. Mereka terlihat keren sehingga bisa memuaskan mata para pelanggan, termasuk konsumen yang tak suka kopi.

Saat Amy bertanya pada perusahaan yang merekrut para orang cantik dan tampan, mereka menjawab bagian pelanggan garis depan merupakan orang yang mewakili citra perusahaan. Inilah yang menjawab mengapa beauty privilege membantu orang-orang meraih posisi yang nyaman meski tak mempunyai nilai atau prestasi yang lebih tinggi dibanding kandidat biasa.

Baca Juga: Arti Cantik Menurut Halima Aden

Jika ditanya siapa yang lebih cakap, antara gadis berkacamata dengan nilai sempurna atau ratu kecantikan dengan nilai rata-rata. Ammy mengungkapkan bahwa banyak perusahaan yang akan memilih ratu kecantikan. Dan ini ternyata termasuk pandangan guru atau tenaga pendidik. Para guru, secara tidak sadar, lebih menyukai anak-anak yang menarik dibandingkan yang biasa saja dan membantu lebih tekun agar mereka berhasil secara akademik.

Ammy menyebutnya sebagai ‘efek halo’ di mana persepsi awal mempengaruhi seluruh karakter sesorang. Ini sering terjadi di film Hollywood di mana superhero selalu tampil cantik dengan kepribadian menarik. Sementara, tokoh antagonis digambarkan dengan wajah yang menyeramkan.

“Sayangnya, ‘efek halo’ bukan hanya di dunia fiksi, tetapi di setiap bidang kehidupan,” ujar Ammy.

Penelitian Andrea Desantts dan kawan-kawannya yang diterbitkan di Sage Journals juga menunjukan bahwa beauty privilege membantu orang mendapatkan hukuman yang lebih ringan dibanding kelompok bertampang biasa. Inilah yang menyebabkan iklan dan produk kecantikan selalu laris meski kampanye ‘cantik dari hati’ terus digaungkan, karena memang di dunia nyata cantik fisik tetap mendapatkan banyak keistimewaan.

Bahkan, influencer sekelas Oprah mengamini bahwa fenomena beauty privilege memang ada. “Beauty privilege is real, Girl!”

Baca juga: Sinopsis I Feel Pretty

Sedih memang, tapi apakah kita harus mengejar kecantikan fisik tanpa melupakan aspek lain. Haidiva setuju dengan Ammy Waterman yang mengajak kita belajar dari film ‘I Feel Pretty’. Bahwa percaya diri itu lebih penting dibandingkan kecantikan itu sendiri.**

Spread the love