Start Up Usaha Sosial yang Dirintis oleh Perempuan

Start Up Usaha Sosial yang Dirintis oleh Perempuan

Haidiva.com-Membuka bisnis sekaligus berbuat kebaikan, itulah konsep usaha sosial atau social enterprise. Menurut data Komisi Ekonomi dan Sosial Perserikatan Bangsa-Bangsa (UN-ESCAP) 2018, Indonesia mempunyai 240 ribu start up usaha sosial atau menyerap sekitar 2 persen jumlah tenaga kerja yang ada. Mayoritas pendiri start up usaha sosial adalah perempuan yang berusaha membantu sesamanya.

Berikut ini, Haidiva memilihkan beberapa usaha sosial dengan pendiri perempuan yang banyak memberikan konstribusi bagi masyarakat. Contoh baik bagi yang ingin mendirikan usaha sosial di lingkungannya.

Javara, Peluang Ekspor Bumbu Dapur

Salah satu pendiri Javara adalah Helianti Hilman yang saat ini menjadi direktur utama. Javara ialah start up usaha sosial yang bekerja lintas rantai nilai pertanian dari produksi hingga distribusi untuk melestarikan keanekaragaman hayati Indonesia dan membawa produk organik berbasis komunitas ke pasar yang lebih luas. Hingga saat ini, Javara telah menciptakan lebih dari 600 produk yang terdiri dari bumbu dapur dan sayuran serta bekerja dengan lebih dari puluhan ribu petani kecil di seluruh Indonesia.

Javara melakukan intervensi di sepanjang rantai pasokan untuk memperkuat kapasitas produksi pemasok, meningkatkan keselamatan di tempat kerja dan memasarkan produk secara nasional dan internasional, mengamankan harga premium bagi petani dan pengolah. Javara saat ini memiliki portofolio lebih dari 250 produk organik yang disertifikasi di bawah standar UE, AS, NOP, dan JAS. Javara telah mengekspor ke lebih dari 22 negara di 4 benua.

Baca: Bisnis Cuan untuk Perempuan di Tahun 2020

Aruna, Pasar Laut Online

Utari Octavianty merupakan perempuan pendiri dari Aruna yang merupakan pasar laut online. Cara kerja startup usaha sosial ini ialah melakukan efisensi mata rantai perdagangan perikanan yang ada sehingga memberikan benefit maksimal bagi nelayan dan pembeli. Hasilnya, nelayan mendapatkan harga 20 persen lebih tinggi dan untuk pembeli 15 persen lebih rendah bila dibandingkan saat melewati tengkulak.

Saat ini, Aruna telah mempunyai 2000 mitra nelayan dari 16 provinsi. Jenis ikan yang diperjual belikan sebanyak 86 macam. Angka ini akan terus bertambah seiring dengan terbukanya kesempatan untuk daerah lain untuk bergabung.

Du’Anyam, Menganyam dari Timur

Start up usaha sosial Du’anyam yang berarti ‘ibu menganyam’ didirikan tahun 2014 oleh tiga perempuan yakni Azalea Ayuningtyas, Melia Winata, dan Hanna Keraf. Du’Anyam sengaja memilih kelompok perempuan, bukan dari kalangan pengusaha, untuk membantu agar keluar dari masalah sosial ekonomi. Hasil anyaman mereka dijual kembali hingga diekspor ke sejumlah negara tetangga.

Du’Anyam telah berhasil menjalin kerjasama dengan hampir 500 ibu di Flores, NTT. Bahkan, produk bernilai tradisi ini berhasil laris  hingga 3000-4000 buah di pasar lokal dan luar negeri. Sampai saat ini, produk Du’Anyam yang telah terjual mencapai sekitar 35.000 buah. Penghasilan yang diterima mitra pun kian bertambah. Berdasarkan data yang diperoleh Du’Anyam, pendapatan rata-rata para ibu yang menjadi mitra meningkat sekitar 40 persen.

Baca: Digital jadi Peluang Pengusaha Perempuan

ThisAble, ketika Disable Menjadi Difable

ThisAble Enterprise didirikan oleh Angkie Yudistia yang saat ini menjadi Staf Presiden bidang Milenial. Thisable Enterprise adalah sebuah social enterprise yang berdiri sejak tahun 2011 memiliki misi untuk memeberdayakan disabilitas Indonesia secara ekonomi di dunia tenaga kerja. Ketika mendapat keahlian, penyandang yang awalnya disable menjadi difable alias mempunyai keahlian yang berbeda (different ability).

Platform start up usaha sosial ini bekerja sama dengan berbagai perusahaan plat merah maupun swasta. Para penyandang disabilitas yang tergabung di sini tak hanya disalurkan ke sejumlah pekerjaan tetapi juga diberikan pendidikan dan pelatihan.

Haidiva percaya produk kewirausahaan sosial yang baik adalah mempunyai kualitas yang setara atau justru lebih baik dibanding produk niaga lain yang mempunyai harga sama. Dengan demikian, mereka bisa bersaing bukan karena embel-embel sosial tapi lebih pada kualitas. **

Spread the love

3 thoughts on “Start Up Usaha Sosial yang Dirintis oleh Perempuan

Comments are closed.