081-2173-3281 redaksi@haidiva.com

Perubahan Film Live-Action Kartun, Kontroversi Melawan Arus

Perubahan Film Live-Action Kartun, Kontroversi Melawan Arus

Haidiva.com– Perusahaan film dunia berlomba-lomba menggarap film live-action yang diambil dari kartun favorit. Setelah Cruela, beberapa cerita fantasi mengantri untuk dijadikan versi hidup. Namun, ada perubahan melawan arus yang justru menimbulkan kontroversi.

Dikutip dari berbagai sumber, berikut perubahan cerita di film live-action adaptasi kartun yang melawan arus dan menimbulkan kontroversi.

Peri genderless di Cinderella

Billy Porter sebagai fairy godmother

Setelah ada versi live-action tahun 2015 buatan Disney, Cinderella kembali digarap dengan cerita yang baru. Film lama menampilkan Lily James sebagai Cinderella dan Helena Bonham Carter sebagai ibu peri. Tapi nampaknya, film baru produksi Sony Pictures menuai kontroversi.

Cinderella versi Sonny Pictures diperankan oleh Camila Cabello. Tapi melawan arusnya, peri yang membantunya di pesta dansa diperankan oleh Billy Porter. Penyanyi yang memenangkan banyak penghargaan ini akan memainkan peran peri genderless, tidak mengacu laki-laki maupun perempuan.

Baca juga: Selain Cruella, film tentang latar belakang penjahat ikonik

“Ini dongeng klasis masa kini. Aku pikir, generasi sekarang lebih siap,” kata Billy Porter seperti yang dikutip dari Deadline.com.

Snow White berkulit kecoklatan

Disney kembali menggarap live-action Snow White di tahun ini. Perusahaan ini menunjuk Rachel Zegler sebagai snow white karena keahlian berakting dan bernyanyi. Penunjukkan ini menuai kontroversi dari netizen karena kulit Zegler yang kecoklatan dianggap tak cocok.

“Tidak, saya tidak akan memutihkan kulit saya untuk peran tersebut,” cuit Rachel Zegler di twitter yang kemudian dihapusnya.

Snow White adalah dongeng klasik karya Grimm bersaudara. Disney membuat versi kartunnya di tahun 1937. Sejumlah artis pernah menjadi Snow White di beberapa film live-action. Sebut saja Lily Collins di ‘Mirror, Mirror’ dan Kristen Stewart di ‘Snow White and the Hunstsman’.

Baca juga: Beda karakter di webtoon dan live-action

Putri duyung dari ras kulit hitam

Saat Disney menunjuk Halle Bailey sebagai Ariel di film live-action The Little Mermaid, netizen protes. Mereka menganggap penyanyi muda berbakat itu tak pantas menjadi putri duyung karena berkulit hitam. Netizen memulai petisi dengan judul #NotMyAriel.

The Little Mermaid sendiri merupakan dongeng klasik buatan Hans Christian Anderson. Kisahnya mempunyai latar belakang lokasi di Denmark sehingga kartun 1989 juga menampilkan gadis Danish. Ariel identik dengan kulit putih dan rambut ginger.

Muak dengan komentar netizen, jaringan televisi kabel Disney, Freeform, membuat “Surat terbuka untuk Orang yang Malang, Jiwa yang Tidak Beruntung”.

“Jadi, setelah semua ini dikatakan dan dilakukan, dan kalian masih tidak dapat memahami bahwa memilih Halle Bailey yang luar biasa, sensasional, sangat berbakat, cantik adalah segalanya dibanding dia tidak terlihat seperti yang di kartun,” tulis FreeForm.

Baca juga: Kontoversi SBS, mulai drama hingga penghargaan

Mulan, si manusia super

Film live-action Disney Mulan banyak menuai kontroversi. Mulai dari syuting yang mengambil lokasi di Cina sehingga dianggap mendukung kekerasan pemerintah setempat hingga elemen cerita. Namun yang paling dikritik adalah penggambaran sosok Mulan.

Berbeda dengan kartun yang mengandalkan keahlian bela diri, Mulan yang dimainkan oleh Li Yifei dianggap manusia super karena punya unsur ‘Qi’. Kekuatan ‘Qi’ di diri Mulan menyebabkan ia ahli bela diri dan menjadi prajurit yang baik. Kekuatan inilah yang disebut berulang kali di film.

Padahal, ‘Qi’ bagi orang Cina adalah bukan sesuatu yang istimewa. ‘Qi’ semacam energi di dalam tubuh yang menyebabkan metabolisme dan fungsi syaraf lancar.

Etnisitas Mulan di film juga berubah dari aslinya. Mulan digambarkan sebagai suku Han. Padahal, sejarah menyebutkan Mulan adalah prajurit suku Xianbei.

Spread the love