Kisah Ustadzah yang Dobrak Tradisi di Kenya

Kisah Ustadzah yang Dobrak Tradisi di Kenya

Haidiva.com-Seluruh muslim dunia berlomba-lomba dalam ibadah selama bulan Ramadhan. Tak jarang, para muslim menghabiskan waktu dengan belajar agama dari para ulama. Di Kenya, khotbah atau kajian agama dulunya didominasi oleh laki-laki. Saat ini, para ustadzah mulai terlibat aktif memberikan ceramah meski hanya lewat radio muslim.

“Perkembangan ini disebabkan dua hal. Pertama karena banyak radio swasta yang diizinkan mempunyai konten agama. Kedua, demokratisasi di Kenya mendorong keterlibatan perempuan untuk mengartikulasikan teks agama,” tulis dosen pendidikan agama dari Universitas Agama Hassan Juma Ndzovu dalam makalahnya yang dimuat di The Conversation.

Baca: Muslimah Pemimpin Politik

Sebelumnya, menurut Hassan, otoritas ulama perempuan di Kenya dibatasi aturan konservatif di masyarakat. Perempuan hanya boleh mengajar baca Al Quran di sekolah tradisional. Mereka dilarang mengajar di jenjang pendidikan agama Islam dan mata pelajaran yang lebih esensial. Hal ini disebabkan mayoritas lembaga Islam dipimpin oleh laki-laki.

Mulai dari khalifah, ulama, mufti, kadhi, sufi, sheikh, hingga pengkhotbah di masjid menganggap perempuan tak layak menduduki posisi publik. Pembatasan ini membuat Azara Mudira, pakar pendidikan terkemuka di Kenya, mendirikan sekolah teologi Islam tingkat lanjut khusus untuk perempuan di tahun 1987.

Misi Azara adalah menantang tradisi eksklusif yang hanya berpusat pada laki-laki dan menciptakan ruang alternatif untuk ulama perempuan. Sekolah ini akhirnya banyak menghasilkan ustadzah perempuan ternama. Salah satunya adalah Nafisa Khitamy Badawi. Ia adalah ulama perempuan yang sangat dihormati di Kenya.

Baca: Puteri Arab Pendobrak Stigma

“Dulu ulama perempuan tak diberi mandate berbicara di depan publik dan mengatasi masalah umat. Sampai seorang perempuan berdakwah kepada penduduk di Kishwahili, pesisir Kenya,”tulis Hassan.

Langkah tersebut meyakinkan masyarakat bahwa ulama perempuan pun mempunyai kapasitas yang mumpuni untuk mengajar. Ulama laki-laki pun akhirnya mengizinkan dengan syarat suara ustadzah tak boleh feminin, dilarang lunak atau menggoda. Penyebabnya karena pandangan ulama laki-laki di Kenya masih menganggap suara perempuan adalah aurat.

Strateginya ialah dengan berbicara di radio atau dibalik tirai saat mengajari murid laki-laki. Hal ini menyontoh istri Nabi Muhammad SAW, Aisyah, yang memberikan pendapat masalah Islam dan memberi pendidikan agama kepada para sahabat di balik tirai.

Para ulama perempuan ini akhirnya setuju dan tak melakukan protes. Alasannya agar mereka tak ingin kehilangan wadah memberikan pendidikan kepada masyarakat. Kepatuhan mereka terhadap norma sosial bertujuan agar mereka tetap bisa berpartisipasi di ruang publik.**

Spread the love