081-2173-3281 redaksi@haidiva.com

Ketahui Post-Menstrual Syndrome, Gejala Setelah Menstruasi

Ketahui Post-Menstrual Syndrome, Gejala Setelah Menstruasi

Haidiva.com-Sebagai perempuan, menstruasi menjadi salah satu fase biologis yang mempengaruhi psikologis. Gejala pre-menstrual syndrome (PMS) sudah banyak diketahui orang yang biasanya identik dengan perasaan marah dan tak nyaman. Nyatanya, ada pula sindrom setelah menstruasi atau dikenal dengan istilah post-menstrual syndrome.

Sindrom pasca menstruasi adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan gejala yang muncul setelah menstruasi seseorang berakhir. Ini dapat berkisar dari gejala fisik seperti sakit kepala hingga emosional seperti kecemasan. Dikutip dari healthline, berikut istilah yang perlu kamu ketahui.

Perbedaan dengan PMS

Ilustrasi PMS

Post-menstrual syndrome tentu berbeda dengan PMS bila dilihat dari waktu hadirnya meskipun gejala emosinya mirip. Kondisi Post-menstrual syndrome juga dikaitkan dengan gejala psikologis yang lebih intens atau kuat daripada PMS.

Alasan terbesar untuk menjelaskan ketidakjelasan sindrom pasca-menstruasi adalah kenyataan bahwa sindrom ini belum diakui dalam pengobatan umum. Faktanya, tidak ada istilah medis yang nyata untuk gejala pasca menstruasi. Tidak banyak penelitian tentangnya. Nama “sindrom pasca-menstruasi” muncul sebagai cara bagi orang untuk lebih mudah menggambarkan pengalaman mereka.

Baca: Kenali mood perempuan berdasarkan siklus bulanan

Penyebab Post Menstrual Syndrome

Post-Menstrual Syndrom, sindrom pasca menstruasi yang perlu kamu ketahui (ilustrasi)

Ketidakseimbangan hormon bisa menjadi penyebab gejala yang datang dengan sindrom pasca menstruasi. Penyebab sindrom ini diperkirakan karena lonjakan hormon, termasuk estrogen dan testosteron.

Dr. Soma Mandal, ahli penyakit dalam bersertifikat dan spesialis kesehatan perempuan di Summit Medical Group di New Jersey, mengatakan hal ini berbeda dengan PMS yang ditandai dengan hormon progesteron menurun.

“Lonjakan hormonal ini terjadi dengan siklus anovulasi (di mana ovulasi tidak terjadi),” jelas Mandal.

Orang dengan sindrom ovarium polikistik (PCOS), implan kontrasepsi, atau resistensi insulin mungkin mengalami sindrom ini. Insulin menjadi faktor utamadapat mengontrol bagaimana hormon lain, seperti estrogen, progesteron, dan fungsi testosteron bekerja.

Mandal juga mengatakan pola makan juga dapat berperan. Pola makan tinggi gula dengan banyak makanan olahan dapat menyebabkan kadar gula darah meningkat sehingga memunculkan post-menstrual syndrom.

Baca juga: Mitos dan fakta menstruasi

Tak semua mengalami PMS dan Post-Menstrual Syndrome

Ketahui Post Menstrual Syndrome, Gejala Setelah Menstruasi seperti Mudah Marah dan atau cemas (istimewa)

Karena mengalami menstruasi bukan berarti Kamu akan mengalami gejala sebelum atau sesudah menstruasi. Gejala pasca-menstruasi sebenarnya diyakini lebih jarang daripada gejala pramenstruasi.

Menurut penelitian terbaru, perempuan mengalami PMS sebanyak 20 hingga 40 persen. Menurut pelatih kesehatan holistik Nicole Jardim, diperkirakan hanya 10 persen perempuan yang mengunjungi tempat praktiknya mengalami kesulitan pasca-menstruasi.

Gejala Post-Menstrual Syndrome

Insomnia juga salah satu gejala post-menstrual syndrome atau sindrom setelah menstruasi (ilustrasi)

Gejala sindrom pasca menstruasi dapat dibedakan menjadi dua, fisik dan psikologis. Gejala psikologis cenderung lebih sering dilaporkan daripada gejala fisik. Hal itu dapat mencakup perubahan suasana hati dan kecemasan dan mungkin menampilkan diri mereka sebagai lekas marah, marah, atau menangis. Kasus yang parah mungkin melaporkan perasaan tertekan, sulit tidur dan berkonsentrasi, atau memperhatikan masalah dengan koordinasi.

Nyeri adalah salah satu gejala fisik. Ini bisa muncul sebagai nyeri di area perut, persendian, punggung dan leher, atau sebagai sakit kepala dan nyeri saat berhubungan seks. Perempuan juga mungkin mengalami ketidaknyamanan pada vagina, termasuk kekeringan, gatal, atau terbakar. Kram juga dapat terjadi.

Baca juga: Perawatan kulit selama menstruasi

Mengatasi Post-Menstrual Syndrome

Sayuran, buah-buahan, atau biji-bijan, dapat memperingan post-menstrual syndrome

Mengobati sindrom pasca-menstruasi mirip dengan mengatasi PMS. Cobalah untuk mengatur tingkat stres harianmu, dan pastikan Anda cukup tidur dan olahraga teratur. Kamu dapat memulai rutinitas perawatan diri yang lebih baik dengan menggunakan minyak esensial dan mencoba teknik relaksasi seperti yoga atau pijat.

Ihwal pola makan, Mandal menyarankan untuk mengurangi asupan garam dan kafein,. Sebaliknya, makanan yang dianjurkan seperti buah, sayuran, ikan, dan biji-bijian.
Suplemen zat besi, vitamin B-kompleks, dan vitamin E juga dapat membantu.

“Kadar zat besi secara alami turun setelah siklus menstruasi, dan bahkan penurunan kecil pun dapat menyebabkan nyeri tubuh, kelelahan, lekas marah, dan kabut otak,” kata Mandal.

Untuk memperbaiki suasana hati, Mandal menyarankan penambahan magnesium yang dapat ditemukan dalam makanan seperti cokelat hitam, kacang-kacangan, biji-bijian, dan alpukat. Asupan magnesium yang rendah bisa berkaitan dengan tingkat depresi pada orang,

Spread the love