081-2173-3281 redaksi@haidiva.com

Hal Perlu Diubah dari Sinetron Agar seperti Drakor

Hal Perlu Diubah dari Sinetron Agar seperti Drakor

Haidiva.com-Netizen Korea Selatan, di forum Theeqo, mengucapkan terima kasih kepada penonton Indonesia. Musababnya karena 10 besar TV Show Netflix Indonesia adalah drama Korea. Itu menunjukkan bahwa ada yang keliru dari sinetron tanah air sehingga tak bisa menjadi tuan rumah di negara sendiri.

Mulai dari drakor yang paling banyak ditonton yakni ‘Hellbound’ sampai ‘Empress Ki’ yang berada di posisi ke-10. Padahal, drama-drama Korea ini sejatinya juga tayang di televisi publik maupun swasta negara tersebut.

Nah, agar sinetron Indonesia yang tayang di stasiun televisi swasta juga diminati dan dilirik penonton, ada bebarap cara yang harus diubah.

Jumlah episode

Rata-rata jumlah episode drama Korea adalah 16 untuk durasi sekitar 1 jam-an atau 32 untuk per 30 menit-an. Banyak pula yang menggunakan 20 episode. Biasanya, drama Korea tayang 1-2 episode per pekan. Artinya, jarang sekali drama Korea yang berlangsung sampai lima bulan.

Baca juga: Alasan drama Korea disukai penonton

Pemecah rekor tertinggi untuk jumlah episode adalah drama komedi ‘High Kick’ dengan 167 episode. Tapi drakor ini tayang Senin sampai Jumat yang berarti hanya memakan wktu kurang dari empat bulan.

Coba bandingkan sinetron Indonesia yang mencapai ratusan episode. Ikatan Cinta misalnya, per tanggal 20 November 2021, jumlah episode mencapai 517. Ini tentu membuat penonton jenuh atas ketidakpastian dan memilih drama Korea.

Alur cerita

Perempuan Penulis Skenario Drama Korea, Karyanya Bikin Baper

Kekuatan cerita drama Korea tak hanya mengandalkan para pemainnya. Ada tiga penyangga keberhasilan drakor yaitu sutradara, penulis skenario, dan produser. Sutradara bertugas mengarahkan. Produser yang berusaha menghubungi pihak pengiklan dan penyandang dana agar drakor berkualitas tetap menghasilkan keuntungan.

Sementara penulis skenario membuat cerita yang menarik agar disukai penonton. Alur dibuat kuat dan matang. Bahkan penulis skenario punya andil untuk memilih aktor yang tepat dan sesuai gambaran di cerita. Jadi, mereka tak asal pilih pemeran.

Baca juga: Perempuan penulis skenario drama Korea, karyanya bikin baper

Berbeda dengan Indonesia, penulis skenario sering kali tak dianggap penting. Buktinya, mereka tak punya banyak waktu untuk benar-benar bisa mematangkan jalan cerita. Sebabnya sistem kejar tayang dan selalu mengikuti rating, para penulis skenario sering membuat cerita hari ini secepatnya agar bisa tayang di besok hari.

Akting kuat

Ada banyak aktor dan aktris Korea yang terkena kritik karena aktingnya biasa saja. Hal ini berimbas pada rating dalam negeri yang lemah karena ditinggal penonton. Meski bisa jadi drama Korea tersebut berating tinggi di luar negeri karena kekuatan fanbase internasional.

Para aktor dan aktris harus melakukan proses pembacaan naskah bersama terlebih dahulu sebelum berakting. Mereka berkumpul dengan sutradara dan penulis skenario untuk mencari akting yang sesuai karakter drama. Upaya ini juga bertujuan menumbuhkan chamistry di antara pemain.

Berbeda dengan sinetron, proses reading jarang sekali dilakukan. Para pemain sering kali baru bisa mempelajari naskah hanya beberapa waktu sebelum pengambilan gambar. Misalnya seperti Lea Chirachel, pemeran Zahra di sinetron ‘Suara Hati Istri’ yang baru tahu perannya sebagai gadis dipaksa nikah muda saat berada di lokasi syuting.

Baca juga: Sinetron Zahra dan perlindungan anak

Ketiadaan proses reading yang layak membuat pemeran sinetron berakting berlebihan bahkan sering tak natural. Tayangan seperti ini tentu hanya diminati orang-orang yang tak punya pilihan tontonan lain.

Setting serius

Drama Korea digarap serius bahkan sampai menggunakan teknologi digital serupa film. Contohnya, Vicenzo memanfaatkan CGI untuk menggambarkan lanskap Italia. Tempat dan properti dibuat semirip mungkin dengan lokasi sebenarnya.

Tak hanya itu, drama Korea menghadirkan para pakar untuk memperbaiki kekurangan. Misalnya, koreografer bela diri dihadirkan untuk pertarungan laga di The Fiery Priest. Atau peselancar profesional dihadirkan untuk mengoreksi gerakan Kim Soenho di Hometown Cha Cha Cha.

Berbeda dengan sinetron Indonesia yang kadang ada adegan di luar logika. Beberapa adegan di kamar rumah sakit kadang terlihat tak natural. Misalnya alat kejut jantung yang malah digunakan ke perut, atau alat bantu nafas yang terpasang terbalik.

Hal-hal tersebut menjadi PR yang harus dikerjakan pembuat sinetron Indonesia bila ingin mengejar posisi drama Korea.

Spread the love