Fakta Di Balik Industri  K-Pop

Fakta Di Balik Industri K-Pop

Haidiva.com-Tahun 2019 lalu, ada lima artis Korea yang meninggal dunia. Tiga di antaranya karena bunuh diri. Dua di antara yang bunuh diri merupakan mantan idola di dunia K-Pop yaitu Sulli (FX) dan Goo Hara (ex KARA). Mereka melakukan bunuh diri diduga karena depresi akibat perundungan dari netizen.

Industri K-Pop memang menyangkut hajat hidup orang banyak dan ada miliyaran US Dollar tiap tahun di dalamnya. Misalnya, untuk BTS saja ternyata mampu menyumbang perekonomian Korea Selatan 3,6 miliar USD setiap tahun. Namun nyatanya, ada kondisi yang manipulatif dan tak manusiawi di belakang panggung.

Dikutip dari Cosmopolitan.com, pengarang buku K-Pop: Popular Music, Cultural Amnesia, and Economic Innovation in South Korea John Lie mengatakan, “Sejarah industri K-Pop adalah sejarah yang ditutup-tutupi. Eksploitasi adalah salah satu kekerasan terburuk.”

Goo Hara dan Sulli

Lie mengatakan sosok yang bertanggung jawab dalam eksploitasi ini tentunya adalah bos para artis, sementara penyanyi idola hanyalah sebagai karyawan. Industri dan atasan ini mendikte apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan oleh karyawannya. Bahkan kontrak menjadi belenggu para artis yang membuat mereka tak bisa mengelak atau bahkan bicara.

“Banyak artis yang tak berani berbicara karena mereka takut di-blacklisted dari dunia industri dan tak punya kekuatan melawan perusahaan induk, “ kata artis K-Pop Grazy Grace.

Baca: Skandal K-Pop Sepanjang 2019, dari Burning Sun hingga Kematian Goo Hara

Dimulai dari Asrama

Hanya ada satu cara masuk ke industri K-Pop, bergabung dalam program pelatihan. Di sini, calon bintang akan dirakit dengan segala kemampuan yang tujuannya untuk memenuhi pasar industri dalam dan luar negeri. Calon idola atau trainee mulai bergabung sejak berusia 11 tahum. Mereka tidur di ranjang susun dan dipaksa berlatih 12 jam sehari bahkan lebih, untuk menghafal lirik atau gerakan menari. Mereka berlatih sampai tak melakukan kesalahan sekecil apapun. 

Pendidikan dan akomodasi selama pelatihan gratis. Kadang-kadang operasi hidung dan pengangkatan kelopak mata ganda diberikan sejak mereka remaja.

“Mulanya saya berpikir ini adalah tangga meraih cita-cita sebagai penyanyi. Hingga saya merasa bermasalah dengan mental seperti insomnia, saya tak bisa tidur lebih dari 6 jam,” kata Grace.

Dia mulai merasakan kecemasan meski tak tahu itu merupakan penyakit mental. Dia tak berani berkata pada siapapun karena takut disingkirkan dari perusahaan. Serangan panic semakin parah ketika Grace dirundung oleh pelatihnya karena suaranya tiba-tiba pecah.

Selain itu, Grace harus menurunkan berat badan secara ketat agar terlihat ideal. Tahun 2018, Momo dari Twice sempat mengunggah di media sosialnya bahwa hanya makan es batu sampai berat badannya turun 15 pon atau sekitar 7 kg.

Twice

Para trainee tak bisa curi-curi kesempatan untuk bersenang-senang karena kamera tersembunyi mengawasi mereka bahkan sampai di kamar. HP sering diperiksa oleh manajer dan mereka tak boleh memosting sesuatu di media sosialnya hingga disetujui. Tak boleh sembarangan selfie bahkan dilarang berpacaran dengan siapapun. Kalau ingin mundur dari tempat pelatihan sebelum debut, beberapa perusahaan mewajibkan para trainee membayar ganti biaya hidup dan pendidikan selama pelatihan. Meski tak semua perusahan di industri K-Pop yang melakukan itu.  

Baca: 5 Idol KPop Berhati Dermawan

Berstatus Idol tak Berarti Penderitaan Berakhir

Bagi mereka yang cukup beruntung debut dan menjadi idol, kehidupan bukan berarti membaik. Meski tiket konser terjual habis, mereka bahkan tak mampu membeli tiket termurah untuk untuk teman sendiri. Ketika Lee Lang memenangkan Best Folk Song di Korean Music Awards 2017, pidato kemenangannya tentang melelang piala untuk membayar cicilan. Ada tawa kemudian disambut keheningan tak nyaman di ruangan. Kemudian ada yang menelepon dan membelinya seharga USD 422.

Kontrak yang relatif panjang dan isi mengekang, membuktikan bahwa mereka dipandang bukan sebagai seniman melainkan aset perusahaan.  Bahkan masa karir mereka bisa lebih pendek daripada kontrak kerja sehingga mereka tak bisa beralih bidang kerja secepatnya saat karir di industri K-Pop menurun.

“Karena itu perusahaan berusaha memaksimalkan keuntungan dalam waktu singkat,”kata pakar K-Pop Lee Hye Jin yang juga asisten guru besar di Annenberg School for Communication and Journalism. Karena itulah, beberapa idol yang sudah tak laku diarahkan ke pelacuran, meski tak di semua perusahaan hiburan.

Karena itulah, banyak para idol yang mengalami titik terendah dalam kesehatan mental seperti Sulli dan Goo Hara. Tapi membicarakan tentang kesehatan mental adalah aib di Korea Selatan bahkan saat mengeluh dengan perusahaan yang menaungi. Hanya sedikit idol yang mendapatkan bantuan kesehatan mental. Inilah yang diungkapkan oleh Kim Jong Hyun dari SHINee lewat surat pesan terakhir sebelum bunuh diri tahun 2017.

Kim Jong Hyun

Masa Depan Idol di Industri K-Pop

Sejatinya ada solusi bagi yang ingin menjadi idol di industri K-Pop tanpa harus masuk perusahaan entertainment. Beberapa calon idol mulai menempa jalur karir mereka sendiri lewat media sosial. Belajar sendiri, mencoba menggaet penggemar sendiri, dan lain sebaginya. Tentu ini bukan hal yang mudah karena yang dihadapi adalah perusahaan agensi hiburan raksasa. Cara ini pula yang dilakukan oleh calon idola yang gagal debut karena dianggap tak layak oleh perusahaan yang sebelumnya menaungi. 

Beberapa idola juga mulai terbuka dengan kesehatan mentalnya. Seperti leader Girl Generation Taeyeon yang mengungkapkan pada penggemar bagaimana dia menggunakan antidepressant. Rapper BTS Suga dan RM secara teratur berbicara tentang masalah depresi dan kecemasan dengan tujuan meningkatkan pemahamanan penggemar K-Pop.

BTS

“Karena semakin banyak idol K-Pop yang vocal tentang masalah mereka, perusahaan agensi perlahan mulai menyadari perlu melakukan sesuatu untuk kesehatan karyawannya,”kata Lee.

BTS akhirnya mendapatkan liburan panjang pertama kali setelah enam tahun. JYP Entertainment segera mengistirahatkan karyawannya, seperti Mina Twice atau Han Stray Kids, setelah melihat adalah depresi di mereka. Diva, semoga semakin banyak perusahaan agensi hiburan di industry K-Pop yang semakin sadar dengan kondisi artisnya, begitu pula para penggemar mereka.**

Spread the love