081-2173-3281 redaksi@haidiva.com

Bukti Perjuangan Perempuan Arab Mulai Raih Kesetaraan

Bukti Perjuangan Perempuan Arab Mulai Raih Kesetaraan

Haidiva.com– Arab Saudi menerapkan interpretasi hukum Islam yang memberikan hak dan kewajiban pada warga negaranya berdasarkan jenis kelamin. Laki-laki Arab Saudi mempunyai privilage yang jauh lebih besar dibandingkan perempuanya. Namun, para perempuan di sana tak mau menyerah.

Perjuangan perempuan Arab mulai menemukan jalannya setelah Putra Mahkota Mohammad bin Salman memodernisasi kebijakan negaranya. Meskipun, tak sedikit perempuan Arab yang menerima sanksi pidana saat menuntut kesetaraan.

Dikutip dari Conversation Indonesia, inilah beberapa bukti keberhasilan perjuangan perempuan Arab. Beberapa kebijakan memberi peluang perempuan untuk mencapai kebebasan.

Perempuan boleh mengendarai mobil

Perempuan berjuang selama puluhan tahun untuk mendapatkan hak mengendarai mobil. Sebelum larangan perempuan mengendari mobil dicabut di tahun 2017, beberapa aktivis ditangkap karena secara terbuka mengemudi mobil. Bahkan, banyak yang masih ada di penjara sampai saat ini.

Baca juga: Pemerintah Arab izinkan perempuan berhaji tanpa laki-laki

Hak tampil di depan publik

Sebelumnya, perempuan Arab hanya boleh tampil di depan publik bila ditemani wali atau mahramnya. Hal ini membuat mereka tak bebas bersuara dan mengakses fasilitas umum. Kemudian, mereka membuat petisi online dengan tagar #IAmMyOwnGuardian. Para aktivis juga mengadakan kelas-kelas untuk memberikan edukasi kepada perempuan lainnya perihal undang-undang sistem perwalian yang melarang perempuan tampil di depan publik tanpa wali.

Memanfaatkan undang-undang yang melarang pencampuran laki-laki dan perempuan di tempat-tempat umum, para perempuan mendorong area khusus yang berada di mal, taman, restoran, sekolah, dan kedai kopi. Di ruang ini perempuan bisa lebih bebas mengekspresikan diri. Mereka dapat melepaskan abaya atau jubah hitam dan berbicara terang-terangan tanpa pengawasan laki-laki.

Area khusus perempuan ini menjadi ruang aman bagi mereka tampil di publik tanpa pendampingan wali. Gerakan ini memicu kebijakan yang memperbolehkan perempuan berhaji atau umroh tanpa pendamping laki-laki asal masih dalam satu kelompok.

Banyak perempuan berpendidikan tinggi

Perempuan Arab Saudi berhak mendapatkan pendidikan tinggi setelah ada aturandi tahun 1970-an. Tapi nyatanya, kesempatan berkuliah baru terbuka lebar dalam 15 tahun terakhir setelah program beasiswa pendidikan ke luar negeri yang diluncurkan pada 2005. Berkat kebijakan itu, perempuan Arab Saudi dikirim setiap tahunnya ke Amerika Serikat (AS), Inggris, Kanada, dan banyak negara lainnya.

Baca juga: Dikuasai Taliban, perempuan dan Army BTS Afghanistan Ketakutan

Universitas khusus perempuan pertama di Arab Saudi, Princess Noura bint Abdulrahman University, berdiri pada 2010. Dengan kapasitas sekitar 60.000 mahasiswa – universitas khusus perempuan terbesar di dunia, universitas ini bertujuan untuk memberi pelajar-pelajar perempuan Arab Saudi akses yang lebih baik ke bidang-bidang seperti kedokteran, ilmu komputer, manajemen, dan farmasi.

Tahun 2015, jumlah pendaftar perempuan untuk masuk perguruan tinggi melebihi laki-laki. Berdasarkan data Kementerian Pendidikan Arab Saudi, tercatat 52% mahasiswa di Arab Saudi adalah perempuan.

Terbuka lowongan pekerjaan untuk perempuan

Berdasarkan data Bank Dunia 2016, hanya 22% tenaga kerja perempuan Arab Saudi sedangkan laki-laki 78% laki-laki. Padahal, perempuan bisa dan mampu bekerja di hampir seluruh bidang seperti laki-laki.

Ada beberapa jurnalis perempuan Arab Saudi, seperti Weam Al Dakheel, yang pada 2016 menjadi pembawa acara TV perempuan pertama dalam program berita pagi di Arab Saudi. Pengacara perempuan Arab Saudi, seperti Nasreen Alissa, satu dari sedikit perempuan yang memiliki firma hukum di Arab Saudi dan pencipta aplikasi “Know Your Rights”

Baca juga: Kisah ustadzah dobrak tradisi di Kenya

Dan menurut Organization for Economic Cooperation and Development, lebih setengah guru di Arab Saudi adalah perempuan. Sementara, setengah pekerja ritel di Arab Saudi juga merupakan perempuan.

Pemerintah Arab Saudi telah menargetkan sebanyak 30% perempuan memiliki pekerjaan pada 2030. Mereka akhirnya menyadari, cara ini efektif mengurangi ketergantungan tenaga kerja asing dengan membolehkan perempuan bekerja di ranah publik.

Perempuan boleh terjun ke politik

(https://womenforafghanwomen.org/)

Perempuan telah membuat kemajuan di bidang politik dalam beberapa tahun terakhir. Pertama-tama, beberapa perempuan ditunjuk sebagai wakil menteri pendidikan pada 2009, penasehat raja pada 2010, dan duta besar Arab Saudi untuk Amerika Serikat pada 2019.

Pada 2015, perempuan Arab Saudi diberikan hak untuk memilih dan ikut serta dalam pemilihan daerah. Hampir 1.000 perempuan maju sebagai kandidat anggota dewan; jumlah ini sekitar 14% dari total kandidat. Meskipun hanya 9% yang terpilih karena budaya patriarki.

Spread the love

2 thoughts on “Bukti Perjuangan Perempuan Arab Mulai Raih Kesetaraan

  1. Mengenal ‘Pick Me Girl’, Si Merasa Paling Beda
    Desember 14, 2022 at 10:56 am

    […] Baca juga: Bukti perempuan arab meraih kesetaraan gender […]

  2. Ursula Von Der Leyen, Perempuan Terkuat Di Dunia 2022
    Januari 3, 2023 at 3:39 pm

    […] Baca juga: Bukti perjuangan perempuan Arab menunjukan hasil […]

Comments are closed.