081-2173-3281 redaksi@haidiva.com

Anak di Instagram dan Youtube, Eksploitasi atau Kembangkan Hobi?

Anak di Instagram dan Youtube, Eksploitasi atau Kembangkan Hobi?

Haidiva.com-“Jangan lupa like dan subscribe ya!” Banyak anak-anak yang menjadi selebritis setelah tampil di akun instagram ataupun Youtube. Mereka berjoget tiktok atau sebaliknya menunjukkan aktivitas dan keahliannya di depan kamera. Para bocah cilik ini bisa mencapai ketenaran dan kekayaan luar biasa hanya menggunakan media sosialnya dan dukungan manajer yang sering kali orang tuanya.

“Meski itu hanya membuka kotak hadiah, mereka sedang bekerja bukan bermain jika menghasilkan uang,” kata mantan artis cilik James Kuehl yang saat ini menjadi legislator di negara bagian Los Angeles dan tengah mendorong revisi Undang Undang Perlindungan Pekerja Anak, dikutip dari Guardian.

Bermain atau bekerja?

The McClure Twins, orang tuanya resign dari kantor untuk mengelola karier mereka

Apa yang sebenarnya anak-anak ini lakukan di hadapan kamera. Bermain atau bekerja? Ibu dari anak kembar Alexis dan Ava, Ami McClure membantah mempekerjakan anak-anaknya saat menampilkan mereka di akun facebook dna instagramnya. Ami dan suaminya, Justin, memang berhenti bekerja untuk mengelola karier putri mereka di hadapan kamera secara penuh waktu.

Baca juga: Arti microcelebrity, artis yang lahir dari media sosial

“Kami yang bekerja, anak-anak tidak,” kata Ami.

Ami beralasan, anak-anak hanya bermain dan bersenang-senang saat di hadapan kamera. Mereka melakukan itu tanpa paksaan. Video tersebut kemudian menghasilkan pendapatan setelah diunggah di facebook, instagram, atau akun web yang membayar promosi tersebut.

Bee Fisher, ibu dari tiga anak laki-laki yang terkenal di Instagram, memberi tahu bahwa anak-anak mereka tak perlu melakukan pengambilan gambar bila tak suka. Kecuali, kata Bee, anak-anak harus tetap melakukannya bila video yang akan diambil merupakan permintaan klien.

“Kecuali itu pekerjaan berbayar. Mereka tetap harus berada di sana. Kami selalu mengiming-imingi lolipop pada hari-hari itu agar mereka tetap mau syuting,” kilah Bee.

Baca juga: Cara atasi anak stres karena belajar di rumah

Kisah Bee dan tiga anaknya belum seberapa dibanding dengan kisah Machelle Hobson, seorang wanita Arizona berusia 47 tahun yang pada bulan Maret dituduh melakukan pelecehan terhadap lima dari tujuh anak angkatnya. Rincian kekerasan anak seperti pemukulan, penyemprotan merica, penganiayaan dan kelaparan anak-anak usia 6 sampai 15 tahun – mengerikan.

“Semua anak menyebutkan harus berpartisipasi dalam saluran YouTube ibu mereka yang disebut Fantastic Adventures di mana dia memiliki lebih dari 700.800 pengikut dan lebih dari 242 juta penayangan,” isi dokumen tuntutan polisi.

Setelah Hobson ditangkap, YouTube terhadap mendemonetisasi akun Fantastic Adventures (yaitu berhenti menjalankan iklan di video); perusahaan kemudian menutup akun tersebut. Hobson mengaku tidak bersalah. Formulir pajak dari Google menunjukkan bahwa dia menghasilkan hampir $ 300.000 atau Rp 4,2 miliar dari saluran YouTube pada tahun 2018.

Larinya uang anak

(The Pattoner)

Pemerhati anak yang turut mendorong revisi perlindungan pekerja anak, Paul Peterson, menjelaskan tentang eksploitasi anak di depan kamera. Mantan artis cilik ini mengatakan para bocah yang tampil di hadapan kamera, baik industri hiburan utama maupun mikroselebriti, memiliki masalah krisis identitas dan asing dengan keluarga atau teman setelah ketenaran mereka mereda.

Baca juga: Harta Britney Spears dikuasai ayahnya, penggemar serukan #Freebritney

Tak hanya itu, kata Peterson, uang yang masuk sebelum anak-anak berusia 21 tahun sebenarnya adalah milik orang tuanya, meski dalih demi kebaikan buah hati.

“Saat saya dewasa, dan ingin mengambil kendali atas kerja keras waktu kecil, ternyata hasilnya tak sebanyak yang saya kira. Karena itu, perlu rekening perwalian yang diblokir, yang tidak bisa digunakan oleh siapapun sampai anak tersebut mencapai usia dewasa,” kata Peterson.

Akun tempat menyisihkan pendapatan anak disebut Rekening Coogan, mengambil nama kisah artis cilik yang kehilangan seluruh pendapatan karena dikuasai orang tuanya. Dorongan untuk merevisi aturan tersebut juga dilakukan oleh pemerhati anak.

Dulu, hanya 15 persen pendapatan anak yang wajib disisihkan agar bisa dikelola sendiri saat dewasa. Sementara sisanya bisa dikelola orang tua untuk kebutuhan anak, membeli rumah, bahkan menggaji dirinya sendiri selaku manajer anak.

Para legislator di California mengambil langkah radikal dengan menyatakan bahwa artis anak berhak atas semua pendapatan dan seluruhnya bisa dimasukkan ke Rekening Cogan. Sementara orang tua mereka sama sekali tidak berhak mengelola uang anak.

Baca juga: Beban kebutuhan orang tua dan anak, atur keuangan generasi sandwich

Regulasi lain yang didorong untuk melindungi selebritis anak ialah mereka harus mendapatkan izin bekerja dan pembatasan jam kerja. Di lokasi pengambilan gambar, anak-anak wajib mendapatkan waktu istirahat dan rekreasi. Mereka juga harus tetap mendapatkan pendidikan dan ruang bermain layaknya anak-anak biasa.

Seharusnya anak tak punya akun

Anak di Instagram dan Youtube, Eksploitasi atau Kembangkan Hobi?
Ryan Toys, Youtuber Anak Terkaya di Dunia. Influencer dan reviewer untuk produk mainan anak

YouTube dan Instgram membatasi pengguna di bawah usia 13 tahun, artinya anak-anak seharusnya tak diperkenankan berada di media sosial tersebut. Karena itulah, sejumlah pemerhati anak meminta YouTube dan Instagram membuat kebijakan agar uang hasil monetisasi di media sosial yang menampilkan anak langsung diberikan kepada para bocah ini bukan pemilik akun.

Dikutip dari Guardian, juru bicara YouTube dan Instagram mengatakan tak mempekerjakan influencer anak. Bila ada anak yang menjadi influencer, kampanye tersebut dikoordinasikan oleh pihak luar. YouTube dan Instagram lepas tangan.

Spread the love