081-2173-3281 redaksi@haidiva.com

Alasan Orang Korea Selatan Malas Menikah dan Punya Anak

Alasan Orang Korea Selatan Malas Menikah dan Punya Anak

Haidiva.com– Survei kependudukan Korea Selatan menunjukkan lebih dari 42 persen warga yang berusia 30 tahun ke atas ternyata belum menikah. Angka ini menyebabkan penurunan kelahiran bayi dan membuat kurva penduduk menjadi lebih tua.

Badan statistik Korea 2020 menujukkan ada 13,7 juta penduduk Korea Selatan berusia di atas 15 tahun. Sekitar 2,82 juta orang penduduk berusia 30 tahun ke atas yang belum menikah. Berdasarkan jenis kelamin, 50,8 persen laki-laki Korea Selatan belum menikah. Sedangkan perempuan sekitar 33,6 persen dari total keseluruhan.

Dikutip dari Korea Times, inilah alasan orang Korea Selatan malas menikah.

Biaya hidup mahal

Alasan Pasangan Korea Selatan Malas Punya Anak (Korea Herald)

Banyak orang yang malas menikah karena perlambatan ekonomi di Korea Selatan. Mereka merasa tak mendapatkan pekerjaan yang layak di tengah resesi. Orang Korea merasa kesulitan untuk mendapatkan penghidupan yang layak.

Baca juga: Alasan pasangan Korea Selatan malas punya anak

Sebagai informasi, rata-rata harga sebuah apartemen di Seoul melebih US$ 1 juta (Rp 14,3 miliar). Ini belum termasuk biaya hidup seperti konsumsi makanan, kesehatan, pendidikan, dan lain sebagainya.

Biaya tersebut tentu akan bertambah bila mereka mempunyai anak. Keinginan memberikan semua yang terbaik bagi buah hati tentu harus disertai biaya yang tak sedikit. Ada harga yang dikeluarkan untuk memberi semua yang nomor satu.

Jam kerja yang padat

Jung Woosung (48 tahun) aktor Korea yang paling ditungga kabar menikahnya, menurut jajak pendapat online DC Inside

Kompetisi di Korea Selatan sangatlah tinggi. Ini menyebabkan jam kerja yang kepanjangan agar kinerja maksimal. Meskipun pemerintah Korea Selatan memangkas jam kerja maksimum dari 68 jam menjadi 52 jam per minggu pada tahun 2018, mereka tetap bersedia lembur di tempat kerja.

Baca juga: Belajar HAM dari Korea Selatan

Alhasil, kehidupan sosial mereka tak seimbang. Banyak anak muda Korea Selatan masih sering menghabiskan waktu di meja mereka daripada berkencan. Setelah pekerjaan selesai, perjamuan bersama klien atau kolega kantor seringkali dipilih daripada berkumpul bersama keluarga atau teman biasa.

Rumah tangga jadi beban perempuan

Film Kim Jiyoung menggambarkan istri yang tertekan karena beban rumah tangga

Meskipun kesetaraan gender sudah terjadi di tempat kerja namun tidak untuk urusan rumah tangga. Tulisan dari The Economist menyebutkan urusan domestik hanya menjadi tanggung jawab perempuan meski suami istri sama-sama bekerja.

Studi yang dilakukan pada 2006 mengungkap bahwa perempuan berusia 25 hingga 54 tahun yang telah menikah sebanyak 46 persennya adalah ibu rumah tangga. Sementara mereka yang juga memiliki pekerjaan lain di rumah, masih mengerjakan 80 persen pekerjaan domestik sementara suaminya hanya 20 persen.

Tanggung jawab inilah yang menyebabkan perempuan malas menikah. Hal itu juga berakibat dengan keengganan perempuan menerima pinangan laki-laki sehingga angka kelahiran rendah.

Spread the love