081-2173-3281 redaksi@haidiva.com

Survei Tren Wisata Keberlanjutan Agoda, Indonesia?

Survei Tren Wisata Keberlanjutan Agoda, Indonesia?

Haidiva.com – Aplikasi perjalanan wisata Agoda merilis hasil survei Tren Wisata Keberlanjutan Survei dalam rangka memperingati Hari Lingkungan Dunia yang jatuh pada tanggal 5 Juni ini mengungkapkan dampak pariwisata dan langkah menjadikan wisata berkelanjutan.

 “Kemudahan memilih perjalanan yang ramah lingkungan (eco-friendly) dan berkelanjutan.  membatasi penggunaan produk plastik sekali pakai dan memberikan insentif finansial kepada penyedia jasa akomodasi yang memaksimalkan penghematan energi adalah tiga langkah utama yang harus dilakukan untuk menjadikan wisata jadi lebih berkelanjutan,” menurut CEO Agoda John Brown, isi siaran pers yang diterima Haidiva pada 4 Juni 2021.

Langkah lain menuju wisata berkelanjutan ialah membuat lebih banyak kawasan terlindungi (protected areas) untuk membatasi jumlah pengunjung. Cara lain ialah meniadakan penggunaan perlengkapan mandi sekali pakai.

Survei juga menunjukkan kekhawatiran terhadap dampak pariwisata. Dampaknya adalah pariwisata yang berlebihan (overtourism), pencemaran pantai dan jalan air (waterway), deforestasi, dan pemborosan energi yang berlebihan.

Baca juga: Nikmati wisata bunga sakura di Indonesia, lokasi rekomendasi Agoda

Butuh tanggung jawab pemerintah

Di seluruh dunia, orang menganggap pemerintah sebagai pihak yang paling bertanggung jawab untuk membuat perubahan positif terhadap lingkungan di bidang pariwisata. Dalam hal menuntut pertanggungjawaban dari pemerintah, Indonesia dan Inggris paling banyak melakukannya (36%), diikuti China (33%), serta Australia (28%) dan Malaysia (27%) berada di urutan keempat dan kelima.

Pihak lain yang dianggap bertanggung jawab selain pemerintah adalah otoritas pariwisata dan perseorangan masing-masing.

Berbeda dengan negara-negara di atas, sejumlah negara dianggap telah mewujudkan wisata berkelanjutam. Negara-negara tersebut adalah Thailand (30%), Jepang (29%) dan Amerika Serikat (28%). Sementara China (11%), Inggris (13%) dan Vietnam (14%) adalah negara-negara dengan kemungkinan terkecil untuk menempatkan tanggung jawab tersebut kepada perseorangan atau individu.

Langkah-langkah negara tersebut ialah mengelola sampah mereka, termasuk mengurangi penggunaan plastik sekali pakai. Di negara tersebut, AC dan lampu dimatikan ketika meninggalkan akomodasi. Masyarakat negara-negara berwisata kelanjutan itu juga selalu mencari akomodasi ramah lingkungan.

Baca juga: Tip staycation hemat dan nyaman

Praktik wisata ramah lingkungan

Ada beberapa praktik yang dikaitkan denganwisata ramah lingkungan atau berkelanjutan. Misalnya  adalah penggunaan sumber energi dan sumber daya terbarukan, seperti tenaga matahari, angin, hidroelektrik dan air. Mereka juga  tidak menggunakan plastik sekali pakai. Melakukan konservasi hewan dan meninggalkan jejak karbon yang lebih kecil juga merupakan wisata ramah lingkungan.

Solusi penghematan energi lain seperti kartu kunci, atau sensor gerak, menggunakan produk pembersih natural adalah praktik penting lainnya. Menariknya, membeli produk lokal, menggunakan kembali seprei atau handuk selama liburan, dan mengunjungi lokasi terpencil adalah tiga terbawah dari 10 langkah yang dikaitkan dengan wisata berkelanjutan.

“Dari Survei Tren Wisata Berkelanjutan oleh Agoda terlihat bahwa pesan-pesan seperti melakukan langkah sederhana mematikan lampu dan AC saat meninggalkan ruangan atau mengurangi sampah dengan meminimalkan penggunaan plastik sekali pakai, diterima oleh masyarakat di seluruh dunia.,” jelas John Brown, CEO Agoda.

Brown mengatakan pemerintah harus menjadi pemimpin dalam pengelolaan wisata berkelanjutan. Tapi,  ada tanggung jawab pula pada perilaku orang-orang itu sendiri

Menurut Brown, walaupun ada perbedaan interpretasi mengenai wisata ramah lingkungan, mayoritas masyarakat umum antusias menjalankan peran mereka. Caranya dengan aktif memilih penginapan yang ramah lingkungan atau membuat keputusan yang memperhatikan aspek lingkungan saat bepergian atau berwisata.

Baca juga: Wisata di pulau dan pantai tersembunyi

Salah satu cara termudah untuk mengatasi overtourism adalah dengan mengunjungi destinasi yang jarang dikunjungi. Setahun belakangan ini, Agoda melihat ada peralihan pada pola perjalanan karena hanya dibatasi pada wisata domestik, dengan mengeksplorasi tempat-tempat yang tidak begitu dikenal.

 “Jika dikelola dengan baik, hal ini tak hanya membantu pengusaha hotel independen dan penyedia akomodasi yang mengandalkan dolar dari wisatawan, namun juga bisa mengurangi beban lingkungan hidup pada area-area yang terlalu padat pengunjung.” ujar Brown

COVID berdampak negatif pada sikap mengenai wisata berkelanjutan

Meningkatnya keinginan berwisata yang lebih berkelanjutan paling terlihat pada responden dari negara Korea Selatan (35%), India (31%) dan Taiwan (31%). Bila dilihat secara global, hanya 25% responden dengan keinginan semakin besar untuk berwisata lebih berkelanjutan.  Bandingkan dengan 35% responden yang keinginannya menurun. Negara-negara yang melaporkan proporsional penurunan terbesar adalah Indonesia (56%), Thailand (51%) dan Filipina (50%).

“Mengkhawatirkan saat melihat banyak orang menganggap wisata berkelanjutan menjadi kurang penting dibandingkan sebelum pandemi COVID-19. Namun, saya harap ini hanya efek jangka pendek, yang disebabkan keinginan besar orang-orang untuk kembali ke luar sana dan bepergian dengan cara yang mereka inginkan,”

Spread the love