081-2173-3281 redaksi@haidiva.com

Ketahui Tentang Femisida, Pembunuhan Menyasar Perempuan

Ketahui Tentang Femisida, Pembunuhan Menyasar Perempuan

Haidiva.com– Baru-baru ini kita dikagetkan dengan kasus mutilasi dengan korban paruh baya. Pelaku mutilasi, M. Ecky Lestianto, mengaku sebagai duda dan menguras harta korban atas nama cinta. Setelah korban mulai sadar, pelaku membunuhnya kemudian mencari korban perempuan kaya lainnya.

Lain cerita dengan Muhammad Ridwan. Laki-laki ini membakar mantan istrinya hidup-hidup lantaran cemburu. DW, mantan istrinya, telah move on dan menjalin hubungan baru dengan laki-laki lain. Tak terima, Ridwan membakar DW bersama kekasihnya. Kekasih DW meninggal, sedangkan ia mengalami luka bakar hingga 60 persen.

Perilaku Ecky dan Ridwan ini bisa disebut dengan femisida. Pembunuhan yang dilakukan terhadap perempuan karena dianggap mempunyai kedudukan lebih rendah dibandingkan pelaku. Dikutip dari UNWOMEN, inilah 5 fakta yang harus kamu tahu seputar femisida.

Mayoritas dibunuh pasangan atau mantan

Pada tahun 2021, sekitar 45.000 perempuan dan anak perempuan di seluruh dunia dibunuh oleh pasangan atau mantan pasangan maupun anggota keluarga lainnya. Artinya, rata-rata lebih dari lima perempuan atau anak perempuan dibunuh setiap jamnya oleh anggota keluarganya sendiri. Pasangan dan mantan sejauh ini merupakan pelaku femisida terbanyak. Terhitung rata-rata 65 persen dari angka kasus tersebut pelakunya adalah pasangan atau mantan pasangan.

Baca juga: Ketahui sejarah hari anti-kekerasan terhadap perempuan

Jumlah pembunuhan terkait pasangan dan keluarga relatif stabil dari waktu ke waktu. Hal ini menunjukkan bahwa dunia gagal menghentikan kematian yang dapat dicegah melalui intervensi dini. Kepolisian dan masyarakat sosial dianggap tidak tanggap keadilan gender. Akses ke dukungan dan perlindungan yang berpusat pada penyintas kurang diberikan.

Femisida terbanyak di Asia

Seperti semua bentuk kekerasan berbasis gender terhadap perempuan dan anak perempuan, femisida adalah masalah yang memengaruhi setiap negara dan wilayah di seluruh dunia. Menurut laporan baru, pada tahun 2021, Asia mencatat jumlah terbesar pembunuhan pasangan intim wanita dan keluarga dengan perkiraan 17.800 korban; diikuti oleh 17.200 di Afrika; 7.500 di Amerika; 2.500 di Eropa; dan 300 di Oseania.

Namun jika diperbandingkan dengan total populasi, pembunuhan ini paling kerap di Afrika. Data yang tersedia menunjukkan bahwa, pada tahun 2021, 2,5 perempuan dan anak perempuan per 100.000 dibunuh oleh pasangan intim atau anggota keluarga di Afrika; dibandingkan dengan 1,4 di Amerika; 1.2 di Oseania; 0,8 di Asia; dan 0,6 di Eropa.

Jumlah korban sebenarnya mungkin lebih besar

Jumlah kasus femisida terlapor itu hanyalah puncak hunung es. Angka yang sebenarnya kemungkinan lebih tinggi. Penyebabnya karena banyak korban femisida yang masih belum terhitung. Misalnya kasus kekerasan dalam rumah tangga yang korbanya meninggal dan dianggap perbuatan tak sengaja oleh masyarakat sekitar. Atau seperti sunat perempuan yang berujung kematian pada anak, seringkali bukan dilaporkan sebagai femisida.

Baca juga: Film Korea Selatan yang terinspirasi dari kisah nyata femisida

Dalam banyak kasus, masyarakat enggan ikut campur bila terjadi KDRT dalam sebuah rumah tangga. Penyelesaian acap kali dengan meminta korban KDRT bersabar atau mengubah sikap alih-alih menindak pelaku melakukan kekerasan.

Berhubungan dengan kelompok rentan lain

Masih ada keterbatasan yang signifikan dalam data dan informasi tentang pembunuhan terkait gender terhadap kelompok-kelompok rentan. Misalnya, kemungkinan pembunuhan itu karena perempuan dan anak termasuk juga dalam kelompok rentan lainnya seperti penyandang disabilitas atau masyarakat adat. Di beberapa negara, data belum bisa menggambarkan hal tersebut.

Namun terlepas dari keterbatasan data, di sejumlah negara telah membuktikan kaitan antara kelompok rentan dan femisida. Di Australia, korban femisida dari kelompok aborigin alias masyarakat adat asli, lebih tinggfi dibandingkan kulit putih. Di Kanadam tingkat pembunuhan perempuan di lima kali lebih tinggi di kalangan penduduk asli dibandingkan perempuan dan anak perempuan non-pribumi.

Untuk mencegah femicide, otoritas nasional harus mencatat data lengkap tentang korban. Dengan mengidentifikasi perempuan dan anak perempuan yang berisiko lebih besar, negara dapat menginformasikan mekanisme pencegahan dan perlindungan dengan lebih baik.

Baca juga: Alasan hantu kebanyakan berjenis kelamin perempuan, karena korban femisida

Femisida wajib dicegah

Pembunuhan terkait gender dan bentuk kekerasan lainnya terhadap perempuan dan anak perempuan tidak dapat dihindari. Femisida sejatinya dapat dan harus dicegah melalui inisiatif pencegahan primer yang berfokus pada transformasi norma sosial yang berbahaya. Caranya dengan melibatkan seluruh komunitas dan masyarakat untuk menciptakan toleransi nol terhadap kekerasan terhadap perempuan; intervensi dini dan penilaian risiko; dan akses ke dukungan dan perlindungan yang berpusat pada korban serta layanan kepolisian dan keadilan yang tanggap gender.

Pengalaman di Afrika Selatan, penurunan femisida yang substantif dan berkelanjutan dapat dicapai melalui undang-undang dan kebijakan komprehensif. UU ini ditujukan untuk mencegah kekerasan berbasis gender terhadap perempuan, undang-undang pengendalian senjata api dan aktivisme hak-hak perempuan dan kelompok berbasis komunitas.

Organisasi hak-hak perempuan memainkan peran penting dalam mencegah kekerasan terhadap perempuan dan anak perempuan. Salah satu contohnya adalah keberhasilan organisasi perempuan di Indonesia dalam pengesahan UU Tindak Pidana Kekerasan Seksual. Namun, perjuangan harus dilanjutkan dengan mendorong perubahan kebijakan, meminta pertanggungjawaban pemerintah, dan menyediakan layanan kritis yang berpusat pada penyintas. Memperkuat dukungan keuangan dan kemitraan dengan organisasi hak-hak perempuan sangat penting guna mengurangi dan mencegah femisida.

Spread the love